JAKARTA, KOMPAS
— Islam Nusantara sebagai pengejawantahan Islam yang damai, toleran,
dan mengakomodasi budaya serta kearifan lokal ditawarkan sebagai wawasan
baru di dunia Islam. Islam Nusantara dapat menjadi solusi penyelesaian
konflik, ataupun referensi bagi dunia Islam untuk mewujudkan tatanan
dunia yang damai dan toleran.
JAKARTA, KOMPAS
— Sejarah nasional Indonesia masih melupakan peran golongan santri
dalam merintis dan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Padahal, buah
perjuangan santri tersebut terus dirasakan hingga saat ini, seperti
hadirnya Indonesia yang toleran dan menghargai keberagaman.
Rihlah
Jâwâ al-Jamîlah wa Qishshah Dukhûl al-Islâm ilâ Syarq Âsiyâ (Perjalanan
[ke] Nusantara yang Elok, dan Cerita Masuknya Islam ke Timur Asia),
ditulis pada tahun 1936 M oleh Shalih ibn ‘Ali al-Hâmid, buku ini
memberikan kita informasi yang kaya, penting, dan langka akan gambaran
Nusantara pada masa penjajahan Belanda ditinjau dari sudut pandang
seorang pelancong asing. Al-Hâmid, seorang sejarawan
dan sastrawan besar dari Yaman, melancong ke Nusantara setahun
sebelumnya (1935 M), dalam sebuah misi kebudayaan. Saat itu Nusantara
masih berada di bawah kekuasaan penjajah Belanda.
Di Desa Candirejo Kecamatan Mojotengah
Kabupaten Wonosobo Jawa Tengah terdapat sebuah makam kuno. Konon, makam
tersebut bersemayam jazad seorang tokoh pembawa alirah Tarekat
Naqsbandiyah pertama kali di tanah Jawa. Syekh Abdullah Qutbudin
namanya. Dia berasal dari Iran.
Bandung, RISALAHNU - Munculnya Islamic State of Iraq and
Sham/Syria (ISIS) atau dalam bahasa Arabnya al-Dawlah al-Islamiyah fi al-Iraq
wa al-Syam (Daisy) adalah gerakan ekstremis lain yang mengatasnamakan Islam.
Dampaknya, wajah Islam tampak hanya kemarahan dan kebiadaban. Di Indonesia,
individu-individu yang berperan mewujudkan visi global ISIS adalah orang-orang
yang tidak mengerti geopolitik Arab, khususnya Irak dan Suriah. Hal tersebut didiskusikan dalam Seminari
Sehari yang bertajuk “Mengantisipasi ISIS, Mencegah Kekerasan Atas Nama Agama”
di Aula Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan Uin Sunan Gunung Jati Bandung, Senin 28 Maret 2016.
Jakarta,
RISALAHNU - Papua adalah bagian
integral dari bangsa dan negara Indonesia. Memiliki kekayaan alam dan budaya
yang luar biasa. Tapi hal ini berbeda dengan kondisi kesejahteraan rakyatnya.
Dalam akhir orde baru hingga sekarang banyak konflik yang terjadi, baik konflik
politik atau konflik agama. pemerintah pusat, berkali-kali juga menyelesaikan,
tapi konflik tersebut selalu saja terjadi.
Menurut Prof. Dr. Muhammad A.S Hikam,
pendekatan kebudayaan melalui toleransi dalam kehidupan keberagamaan dan
penguatan kebangsaan adalah langkah yang tepat sebagai strategi resolusi
konflik di papua. Ini harus dilakukan karena pendekatan keamanan tidak akan
efektif. Dan sudah terbukti dalam perkembangan sejarah penanganan konflik
di Papua. Hal itu disampaikan dalam Seminar bertema “Papua adalah Indonesia”
yang dilaksanakan di Gedung AJS Fakultas Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Indonesia. Kamis, 29 Oktober 2015. Terkait Tolikara, Mantan
Menristek era Gus Dur ini mengatakan, “Insiden Tolikara, tidak bisa
dianggap sebagai pendindasan Kristen terhadap Islam.
Jakarta, NU Online. Tim
kaderisasi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) akan memfasilitasi
pertemuan dengan Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB
PMII) dan Ikatan Keluarga Alumi (IKA) PMII untuk membahas lebih lanjut
mengenai rencana menarik kembali PMII menjadi badan otonom NU.
“Kami
belum mendapatkan mandat dari PBNU, jadi sementara tetap konsentrasi
melakukan kaderisasi ke berbagai daerah. Kalau sudah ada mandat dari
PBNU kami siap memfasilitasi pertemuan dengan PMII dan IKA-PMII,” kata
Koordnator Pelaksana Kaderisasi PBNU KH Masyhuri Malik di ruang redaksi NU Online, Jum’at (21/11) kemarin.
Dikatakannya,
keputusan Munas-Konbes NU 2014 memberikan batas akhir kepada PMII
sampai Muktamar 2015 untuk kembali ke NU merupakan penegasan dari
keputusan rapat Pleno PBNU di Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta pada
awal periode kepengurusan PBNU 2010-2015. Pada Munas awal November 2012
lalu, perwakilan PWNU se-Indonesia telah sepakat menarik PMII menjadi
badan otonom NU.
“Sudah banyak alasan yang disampaikan dan telah
diketahui oleh para kader PMII. Namun PBNU tetap perlu menyampaikan
secara langsung kepada PB PMII, IKA-PMII, atau jika perlu mengudang
PKC-PKC (pengurus koordinator cabang) kenapa PMII perlu kembali menjadi
badan otonom NU,” kata Masyhuri Malik.
Menurutnya, program
kaderisasi NU di tingkat kampus harus bersinergi dengan program
kaderisasi tingkatan lainnya dalam struktur keorganisasian NU. “Sudah
dipertimbangkan, apakah PMII independen saja atau bergabung lagi secara
organisatoris ke NU, dan Munas-Konbes kemarin memutuskan bahwa kalau
PMII kembali lagi ke NU akan lebih besar maslahatnya, baik untuk NU dan
PMII sendiri,”katanya.
Ditambahkan, tim kaderisasi NU telah
melakukan langkah komunikasi yang baik dengan PMII. PB PMII juga telah
mengikuti kegiatan Pelatihan Kader Penggerak (PKP) NU di Pusdiklat NU
Rengasdenklok, Karawang. Pada satu angkatan bahkan PKP NU diikuti oleh
Ketua Umum PB PMII periode lalu dan jajarannya serta perwakilan PKC PMII
dari beberapa daerah.
“Sebenarnya sudah sempat ada kesepahaman
mengenai pentingnya PMII kembali ke NU. Tapi ya namanya juga anak muda.
Kita lihat saja nanti,” kata Kiai Masyhuri.
PMII didirikan pada
1960 yang merupakan kelanjutan jenjang kaderisasi NU di tingkat IPNU.
Pada 1972 dalam suasana tekanan politik Orde Baru PMII menyatakan
independen dari NU. Berikutnya, pada 1991 setelah NU "Kembali ke
Khittah" PMII telah mengumumkan “interdependensi” yang berarti menjadi
bagian dari NU tapi tidak terikat secara organisatoris.
Informasi yang diterima NU Online,
PBNU telah menyiapkan beberapa langkah kaderisasi NU di tingkat kampus.
Hal ini terkait dengan persebaran kader NU di berbagai perguruan tinggi
di Indonesia serta semakin banyaknya kampus baru yang didirikan dengan
berbadan hukum NU. Pada Muktamar 2015 nanti, jika PMII tetap tidak mau
pergabung dengan NU, PBNU bahkan siap mengajukan nama organisasi
kemahasiswaan NU baru yang akan disahkan dalam Muktamar NU 2015. (A. Khoirul Anam)
ansor.or.id,
SURABAYA: Pada momentum Peringatan Harlah ke-80 Tahun, Pimpinan Pusat
Gerakan Pemuda Ansor mengumumkan Pimpinan Cabang Terbaik. Penghargaan
ini merupakan bagian dari apresiasi terhadap kerja keras dan kinerja
perjuangan Gerakan Pemuda Ansor di Tingkat Pimpinan Cabang, sekaligus
agar bisa menjadi inspirasi bagi cabang yang lain untuk berperan lebih
baik.
Penilaian dilakukan secara obyektif atas pelaksanaan program -
program organisasi yang menjadi variabel akreditas cabang, mencakup
pengembangan majelis dzikir dan sholawat Rijalul Ansor, program
kaderisasi, penguatan struktur hingga tingkat ranting, pengembangan
Banser, pendirian amal usaha LKP dan LKMS, dan kegiatan lain.
Akhirnya PC GP Ansor yang terbaik adalah Wonosobo. GP Ansor Cabang
Wonosobo berdiri pada 1955. Dalam kurun waktu 10 tahun terahir ini Ansor
Wonosobo fokus pada pemberdayaan kader, melalui pelatihan peningkatan
kualitas kader, a.l. perbengkelan, las, bubut, menjahit, pengelolaan
peternakan, dan perikanan. Ansor telah membuat Lembaga Kusus dan
Pelatihan (LKP) Tunas Bangsa.
Organisasi yang saat ini diketuai oleh Asma Khozin S.Psi tersebut
telah melatih kader Banser dalam menjadi tim penangulangan bencana dan
membentuk Tim Rescue Kolo Dete. Anggotanya167 personil.
Selain itu, 2tahun terakhir Ansor Wonosobo menyiapkan kader yang akan
masuk perguruan tinggi negeri. Saat ini tercatat 44 kader yang lolos
masuk PTN.
Ansor Wonosobojugamendirikan KSU Silamas (PAC Kertek), dan KSU
Annamak (PAC Kepil), yang bergerak di bidang simpang pinjam untuk
memperkuat permodalan anggota. Kedua koperasi ini memiliki aset Rp1,5
miliar.
Selama 2013, kaderisasi meningkat drastis, tecermin dari 8 kali PKD
dan diklatsar di tingkat PAC dengan melahirkan 2.677 kaderbaru, sehingga
total kader Ansor Wonosobo mencapai lebih dari 22.000 orang.
Selain itu, enam PC nominator antara lain: PC Ansor Kabupaten Malang
GP Ansor di Kabupaten Malang termasuk salah satu pimpinan cabang
terbaik, yang selama ini aktif mendukung tiga agenda besar organisasi
yakni revitalisasi nilai tradisi, kaderisasi, dan pemberdayaan potensi
kader.
Pada Oktober ini, PC yang diketuai oleh Hasan Abadi ini menggelar
Diklatsar Banser yang melibatkan 1.067 personeldi Pesantren Teknologi
SMK Plus Al-Maarif, Candirenggo pada Sabtu – Minggi (19-20/10/2013).
Ini untuk membentuk penguatan kader di tingkat desa.“Makanya,
pesertanya dari seluruh ranting yang ada di 33 PAC se Kabupaten Malang.
Mereka merupakan utusan khusus yang diharapkan bisa menjadi pelopor di
desanya masing-masing,” papar Hasan Abadi.
Kepeloporan itu tidak hanya pada satu aspek kehidupan saja. Namun
menyeluruh. Misalnya, dalam keagamaan, sosial, budaya, keamanan dan
ketertiban. Termasuk juga dalam mengantisipasi dampak bencana alam.
Makanya, kegiatan tersebut, disamping sebagai upaya penguatan
kepeloporan kader Ansor di tingkat desa, juga untuk memberikan
keterampilan dalam menghadapi persoalan sosial dan bencana. Sehingga,
mereka mampu memberikan bantuan pada masyarakat di sekitarnya. PC Ansor Jombang
Sejak dilantik menjadi Ketua PC Ansor Jombang GP April 2011, Sholahul
Am Notobuwono langsung tancap gas melakukan pembenahan organisasi.
Pengembangan pengurus di tingkat cabang maupun kecamatan dilakukan
dengan pelatihan administrasi dan IT.
Ansor ataupun Banser tak pernah berhenti berkegiatan, baik yang
berhubungan dengan kader maupun dengan masyarakat, seperti pengajian
bulanan di setiap Anak Cabang GP Ansor dan dibentuknya jamaah Rijalul
Ansor, Pendidikan Kader Dasar (PKD), Diklat Terpadu Lanjutan (DTL)
Banser, Diklatsus Banser Lalu-lintas, diklatsus Banser Tanggap Bencana,
serta Diklat Terpadu Dasar untuk rekrutmen anggota Banser. Setahun tiga
kali pengkaderan.
Ansor Jombang juga mendirikan koperasi Ansor di tingkat kecamatan,
melakukan pendampingan dan pelatihan bersama Kadin Jombang untuk
pemberdayaan usaha kader di desa seperti melalui pelatihan membuat tahu
Nagarin.
Ansor berhasil dalam usaha perikanan dengan produksi 2 juta bibit per
bulan dan omzet miliaran rupiah. Dua tahun lalu, Ansor menggandeng PT
Fajar Surya Swadaya untuk perekrutan 400 tenaga kerja, yang
diberangkatkan ke Panajam, Kaltim.
Untuk menjaga nilai-nilai kebhinekaan, humanisme dan pluralisme,
Ansor Jombang menyelenggarakan seminar dengan the Wahid Institute dan
Persatuan Purnawirawan Angkatan Darat (PPAD), serta sarasehan budaya
bersama Slank dan Ki Ageng Ganjur, dll. PC Ansor Kabupaten Temanggung
PC GP Ansor Temanggung membawahi 20 PAC dan 289 pimpinan ranting,
serta memiliki sekitar 7.000 anggota Banser. Di bawah kepemimpinan Yami
Blumut, Sp., Ansor Temanggung punya strategi untuk mendayagunakan
potensi daerah yang terkenal dengan tembakau terbaik di dunia, srinthil.
Jajaran pengurus terdiri dari aktivis lintas partai, dan kader PAC,
PMII, IPNU, kader pendidikan, kader birokrasi, serta merangkul
ulama-ulama muda. Program kerja berbasiskonsolidasi internal,
pendataananggota, memenuhikebutuhananggota,
kerjasamadenganpemerintahdaninstansi terkait.
Ormas pelestari lingkungan hidup dan penerima penghargaan tanggap
bencana dari Bupati Wonosobo ini aktif memperjuangan nasib petani
tembakau, menolak bulan kondom nasional, aktif membina anak-anak pecandu
miras narkoba, dengan dilatih pencak silat.
Ansor juga melakukan rehab rumah tak layak huni, dan merenovasi
korban tanah longsor di Kedopokan dan Wonosobo, serta aktif melakukan
santunan anak yatim piatu.
Soal pengkaderan, Ansor dan Banser telah mempersiapkan instruktur 20
orang instruksi PKD per kecamatan, dan telah memiliki 125 pelatih
Diklatsar Banser.
Ansor Temanggung memiliki empat binaan LKP, dan untuk pemberdayaan
ekonomi digerakan melalui Koperasi Wirausaha Nasional Pemuda Mandiri
(Kowina Muda), Kelompok-kelompok tani dan unit usaha lainnya. PC Ansor Kabupaten Batang
PC GP Ansor memiliki 15 PAC dan 215 ranting yang aktif. Meski
kepengurusan di bawah kepemimpinan Umar Abdul Jabar, S.Ag, M.Pd baru
dilantik pada 29 November 2013, PC Ansor Batang telah memiliki rentetan
panjang kegiatan.
Pembukaan kegiatan Rijalul Ansor dilakukan berbarengan dengan
momentum pelantikan pengurus, dilanjutkan Parade Rebana se Kabupaten
Batang, Lomba Akreditas Masjid, hingga Pengamanan Natal.
PC Ansor Batang mengungkapkan sejumlah tantangan yang dihadapi,
seperti lasnya wilayah, memahamkan aqidah ahlussunah waljamaah terhadap
kalangan pemuda, terbatasnya sumber daya manusia, sumber pendanaan, dan
eksistensi lembaga Ansor yang berwibawa.
Untuk itu, PC Ansor Batang melakukan pembagian wilayah kerja terhadap
pengurus cabang, menghidupkan kegiatan Rijalul ansor melalui Lomba
Rebana dan Akriditasi Masjid, dan Radio Nuansa FM, PKD dan membentuk
Koperasi MITRA SAHAJA, hingga pelatihan berwirausaha melalui koperasi,
SANLAT. GP Ansor Bandung Barat
GP Ansor Kabupaten Bandung Barat berdiri seiring dengan pemekaran
Kabupaten Bandung menjadi Kabupaten Bandung Barat pada 2007. Ansor
Bandung Barat kini telah memiliki 16 PAC dan 165 ranting.
Pada Juli 2011, Ansor Bandung Barat mengirimkan grup Marching Band
Banser ke Harlah ke-85 Tahun NU di Gelora Bung Karno. Pengkaderan terus
dilakukan, prestasi demi prestasi mulai diraih.
Pada 30 Juni 2013 dilaksanakan konfercab 2 gerakan pemuda Ansor
Bandung Barat yang diikuti 500 orang peserta secara aklamasi menunjuk
Cecep Nedi Sugilar sebagai Ketua PC GP Ansor 2013–2017. Langkah
pengkaderan PKD I dilaksanakan pada 11–13 Oktober 2013 di Pesantren
Darun Nadwah dikuti 105 orang kader.
Ansor Bandung Barat kembali menggelar PKD dan Diklatsar II pada 23–25
November 2013 dilaksanakan di Pesantren Al Huda yang di Ikuti oleh 180
kader. Yang di hadiri oleh pimpinan wilayah Gerakan pemuda Ansor Jawa
Barat sahabat Ketua, Sekretaris, dan pengurus lain. PC Ansor Kabupaten Lampung Tengah
Lampung Tengah dengan ibu kota di Gunung Sugih adalah kabupaten di
Provinsi Lampung. GP Ansor Lampung Tengah telah ada sejak 1960-an.
Di bawah kepemimpinan Budi Hadi Yunanto, PC GP Ansor telah melakukan
kaderisasi formal, dan informal. Banser telah dua kali melakukan latihan
dengan Lomba Susur Rimba yang telah di ikuti oleh 125 tim.
Ansor Lampung Tengah memiliki 28 pimpinan anak cabang. Untuk
mengatasai masalah geografis yang luas, PC membentuk empat korwil
berdasarkan geografis, yakni Korwil Lampung Tengah bagian Barat, Korwil
Lampung Tengah bagian Utara, Korwil Lampung Tengah bagian Selatan,
Korwil Lampung Tengah bagian Timur.
PC Ansor Lampung Tengah merupakan organisasi kepemudaan tersehat di
Kabupaten Lampung Tengah Tahun 2013. Ansor Lampung Tengah juga aktif
membangun komunikasi dengan ulama, kelompok masyarakan petani tambak,
dan karyawan tambak.
PC Ansor Lampung Tengah pun aktif dalam mendamaikan kampung yang
terlibat konflik antarsuku (Kampung Kesuma Dadi Kecamatan Berki dengan
Kampung Buyut Udik Kecamatan Gunung Sugih), serta aktif mencegah konflik
antarsuku di Kampung Kota Baru kec. Padang Ratu dengan Kampung Tanjung
Harapan kec. Anak Tuha.“Kegiatan itu kami namai Siaga BAGANA,” kata Budi
Hadi.(Ftm)
Dalam Pembukaan Konbes XIX GP Ansor dan Pra-Muktamar Nahdlatul Ulama (NU), &
Peluncuran Buku Keuangan Inklusif: Membongkar Hegemoni Keuangan & Konbes Gerakan Pemuda Ansor
Jakarta, 10 Oktober 2014 Assalamu’alaikum Wr Wb
Terimakasih atas kehadirannya
dalam Pembukaan Konbes XIX GP Ansor dan Pra Muktamar XXXIII NU yang akan
dilaksanakan di PP. Al-Hikamussalafiyah Cipulus Wanayasa Purwakarta
Jawa Barat. Acara ini juga sekaligus dirangkai dengan peluncuran Buku “Keuangan Inklusif; Membongkar Hegemoni Keuangan, Peranan KUR dalam Mengentaskan Kemiskinan dan menekan Pengangguran.
Konbes merupakan forum konstitusial organisasi pada tengah periode
kepengerusan pimpinan pusat gerakan pemuda Ansor, sebelum pelaksanaan
Kongres lima tahunan yang akan dilaksanakan pada tahun 2016.
Konbes
merupakan forum mengevaluasi pilihan gerakan dakwah yang dilakukan dan
mengkonsolidasi berbagai unit layanan organisasi agar lebih fokus
terarah dan tepat sasaran. Lebih-lebih menjelang Muktamar NU ke-33 yang
akan dilaksanakan pada April 2015.
Forum Pra Muktamar ini, akan menjadi sarana anak muda NU melakukan
refleksi gerakan dan menyusun agenda-agenda besar keumatan dalam rangka
redesign dan rekonstruksi gerakan kultural NU diberbagai bidang, sejalan
dengan arus pola perubahan masyarakat yang mau tidak mau membutuhkan
transformasi internal dalam diri jamiyah dan jamaah NU.
Forum ini akan diikuti oleh seluruh Pengurus Pimpinan Pusat, Pimpinan
Wilayah se-Indonesia, beberapa Pimpinan Cabang percontohan dan
unit-unit layanan organisasi; seperti Induk Koperasi Jasa Keuangan
Syariah/ BMT, Pengelola Lembaga Kursus dan Pelatihan yang dimiliki oleh
Ansor dan para kiai-kiai muda pengasuh pondok pesantren.
Bapak-Ibu, hadirin yang kami hormati,
Sejak
Kelahirannya pada tahun 1934, GP Ansor tidak pernah putus asa dalam
menggelorakan dan mengawal Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sikap ini
bukan bentuk dari fanatisme buta melainkan kesadaran yang tumbuh dalam
sublimasi nilai yang melekat antara dimensi ke-Indonesiaan dan
ke-Islaman yang melekat dalam setiap kader. Pengorbanan para pejuang
kemerdekaan, tidak boleh disia-siakan. Oleh karena itu, segala upaya
mengganti bentuk NKRI menjadi bentuk lain, entah itu khilafah Islamiyah,
atau gerakan separatisme tidak boleh dibiarkan terjadi di Republik ini.
Selain itu, komitmen kader GP Ansor terhadap NKRI juga dilandasi oleh
kesadaran eksistensial sebagai orang Indonesia yang beragama Islam,
bukan sebagai orang Islam yang kebetulan berada di Indonesia. Kesadaran
sebagai orang Indonesia yang beragama Islam membawa kita pada pemahaman
bahwa kita tidak pernah akan rela Negara Indonesia terpecah belah,
tercabik-cabik oleh gerakan-gerakan yang mengatasnamakan Islam.
Setelah
bangunan ideologis terbangun, tugas selanjutnya adalah memastikan
masyarakat Indonesia terjamin kesejahteraannya, sebagaimana tujuan
negara Republik Indonesia. Hal ini sangat penting, karena seringkali
urusan ideologis dikalahkan oleh kebutuhan biologis. Jangan sampai ada
warga Indonesia yang dengan terpaksa menukar loyalitasnya kepada NKRI
dengan sesuap nasi dari pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab.
Jalan untuk memastikan kesejahteraan ini tidak lain adalah
pembangunan. Yang ingin kami garis bawahi dalam kesempatan ini adalah,
visi mewujudkan keuangan inklusif tidak kalah strategisnya dengan
pembangunan di sektor pendidikan, infrastruktur, energi dan sumber daya
terbarukan, ekonomi kreatif dan sebagainya.
Keuangan inklusif dapat menjadi penggerak dari sektor ekonomi di
masyarakat basis, sekaligus dapat menjamin terciptanya pemerataan
manfaat ekonomi. Kami melihat bahwa kesenjangan sosial yang saat ini
masih sangat ekstrim antara masyarakat kota-dengan desa, antara kaum
elit dengan kawula alit, terjadi karena sektor keuangan masih
merupakan barang mewah bagi masyarakat kebanyakan, sektor keuangan masih
bersifat elitis dan cenderung selfish.
Dalam konteks inilah, financial inclusion harus menjadi
kesadaran bersama dari elemen masyarakat, pelaku industri keuangan,
pemerintah dan lembaga pengawas industri keuangan.
Bapak-Ibu, hadirin saudara yang kami hormati,
GP
Ansor bersama IFIS sudah melakukan berbagai program aksi untuk
mengkonsolidasikan potensi-potensi Ulama/Kyai muda dengan memperkenalkan
sektor keuangan. Salah satunya dengan memulai upaya memasukkan materi
muatan sektor keuangan ke dalam kurikulum/pembelajaran santri di pondok
pesantren.
Ke depan, kami akan terus mengembangkan terobosan-terobosan kreatif
dalam upaya mewujudkan financial inclusion di tanah air. Kami menyadari
sepenuhnya bahwa apa yang kami lakukan, tidak berarti apa-apa tanpa
adanya dukungan dan sinergi dari seluruh stake holder di sektor
keuangan. Bapak, Ibu, Saudara yang kami Hormati,
Sebagai
penutup, mari kita berdo’a agar kegaduhan yang ditimbulkan oleh
elit-elit politik di parlemen, dapat segera berakhir. Kita sangat
berharap muncul sikap kenegarawanan dari elit-elit politik, sehingga
drama pengesahan UU Pilkada oleh DPRD, kericuhan dalam pemilihan
pimpinan DPR dan lain-lain tidak terjadi lagi di panggung politik bangsa
ini. Sebagai bangsa dengan budaya timur, demokrasi di negeri ini
seharusnya berjalan dengan santun dan kerendah-hatian. Demokrasi tidak
seharusnya menjadi alat untuk balas dendam.
Kita sudah mempunyai pengalaman panjang terhadap relasi eksekutif-legislatif. Kita sampai pada kesimpulan bahwa executive heavy maupun legislative heavy sama-sama tidak baik bagi Bangsa ini. Bukan heavy di salah satu lembaga yang kita butuhkan, karena demokrasi mensyaratkan adanya balance of power, mensyaratkan adanya keseimbangan hubungan antar pilar-pilar demokrasi.
Relasi lembaga legislatif-eksekutif-yudikatif harus berjalan
seimbang. Tidak boleh ada tirani oleh salah satu pilar demokrasi atas
pilar demokrasi lainnya, karena tirani hanya akan menjadi bencana bagi
Bangsa ini. Tirani merupakan pintu terjadinya kesewenang-wenangan,
penyalahgunaan kekuasaan dan korupsi (power tends to corrupts, and absolute power corrupts absolutely).
Tirani legislative akan berujung pada pemanfaatan DPR sebagai “the site of power struggle”
bagi segala kepentingan partai politik. Loyalitas anggota dewan kepada
pimpinan partai politik menjadi jauh lebih tinggi ketimbang loyalitas
kepada konstituen. Jika sudah demikian, jika anggota dewan sudah lupa
pada rakyatnya, maka tepatlah sebuah iklan yang berbunyi “sudah duduk,
lupa berdiri, sesudah duduk lupa akan janji-janji”. Legislative heavy juga mengakibatkan hampir tidak adanya
kebijakan eksekutif yang tidak dapat diintervensi oleh legislatif. Untuk
menjaga stabilitas kehidupan berbangsa dan bernegara, hanya satu yang
boleh memiliki kekuasaan dan kedaulatan penuh di negara ini, yaitu
RAKYAT (people power).
Oleh karena itu, sebagai elemen
masyarakat sipil, Gerakan Pemuda Ansor berkomitmen untuk menjamin agar
demokrasi berjalan dalam jalur yang benar, agar institusi demokrasi
menjadi alat untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat. Masa depan Bangsa
Indonesia terlalu berharga untuk kita pertaruhkan.
Artikel ini dikutip dari buletin Nahdliyah yang diterbitkan PCNU Pasuruan edisi 1 dan 2 September dan Oktober 2006. Artikel ini dimuat kembali agar generasi muda NU dan simpatisannya semakin memahami NU dan mempertebal keimanan Ahlussunnah wal Jamaahnya.Ada tiga orang tokoh ulama yang memainkan peran sangat penting dalam proses pendirian Jamiyyah Nahdlatul Ulama (NU) yaitu Kiai Wahab Chasbullah (Surabaya asal Jombang), Kiai Hasyim Asy’ari (Jombang) dan Kiai Cholil (Bangkalan). Mujammil Qomar, penulis buku “NU Liberal: Dari Tradisionalisme Ahlussunnah ke Universalisme Islam”, melukiskan peran ketiganya sebagai berikut Kiai Wahab sebagai pencetus ide, Kiai Hasyim sebagai pemegang kunci, dan Kiai Cholil sebagai penentu berdirinya.
Tentu selain dari ketiga tokoh ulama tersebut , masih ada beberapa tokoh lainnya yang turut memainkan peran penting. Sebut saja KH. Nawawie Noerhasan dari Pondok Pesantren Sidogiri. Setelah meminta restu kepada Kiai Hasyim seputar rencana pendirian Jamiyyah. Kiai Wahab oleh Kiai Hasyim diminta untuk menemui Kiai Nawawie. Atas petunjuk dari Kiai Hasyim pula, Kiai Ridhwan-yang diberi tugas oleh Kiai Hasyim untuk membuat lambang NU- juga menemui Kiai Nawawie. Tulisan ini mencoba mendiskripsikan peran Kiai Wahab, Kiai Hasyim, Kiai Cholil dan tokoh-tokoh ulama lainnya dalam proses berdirinya NU.
Keresahan Kiai Hasyim
Bermula dari keresahan batin yang melanda Kiai Hasyim. Keresahan itu muncul setelah Kiai Wahab meminta saran dan nasehatnya sehubungan dengan ide untuk mendirikan jamiyyah / organisasi bagi para ulama ahlussunnah wal jamaah. Meski memiliki jangkauan pengaruh yang sangat luas, untuk urusan yang nantinya akan melibatkan para kiai dari berbagai pondok pesantren ini, Kiai Hasyim tak mungkin untuk mengambil keputusan sendiri. Sebelum melangkah, banyak hal yang harus dipertimbangkan, juga masih perlu untuk meminta pendapat dan masukan dari kiai-kiai sepuh lainnya.
Pada awalnya, ide pembentukan jamiyyah itu muncul dari forum diskusi Tashwirul Afkar yang didirikan oleh Kiai Wahab pada tahun 1924 di Surabaya. Forum diskusi Tashwirul Afkar yang berarti “potret pemikiran” ini dibentuk sebagai wujud kepedulian Kiai Wahab dan para kiai lainnya terhadap gejolak dan tantangan yang dihadapi oleh umat Islam terkait dalam bidang praktik keagamaan, pendidikan dan politik. Setelah peserta forum diskusi Tashwirul Afkar sepakat untuk membentuk jamiyyah, maka Kiai Wahab merasa perlu meminta restu kepada Kiai Hasyim yang ketika itu merupakan tokoh ulama pesantren yag sangat berpengaruh di Jawa Timur.
Setelah pertemuan dengan Kiai Wahab itulah, hati Kiai Hasyim resah. Gelagat inilah yang nampaknya “dibaca” oleh Kiai Cholil Bangkalan yang terkenal sebagai seorang ulama yang waskita (mukasyafah). Dari jauh ia mengamati dinamika dan suasana yang melanda batin Kiai Hasyim. Sebagai seorang guru, ia tidak ingin muridnya itu larut dalam keresahan hati yang berkepanjangan. Karena itulah, Kiai Cholil kemudian memanggil salah seorang santrinya, As’ad Syamsul Arifin (kemudian hari terkenal sebagai KH. As’ad Syamsul Arifin, Situbondo) yang masih terhitung cucunya sendiri.
Tongkat “Musa”
“Saat ini Kiai Hasyim sedang resah. Antarkan dan berikan tongkat ini kepadanya,” titah Kiai Cholil kepada As’ad. “Baik, Kiai,” jawab As’ad sambil menerima tongkat itu.
“Setelah memberikan tongkat, bacakanlah ayat-ayat berikut kepada Kiai Hasyim,” kata Kiai Cholil kepada As’ad seraya membacakan surat Thaha ayat 17-23.
Allah berfirman: ”Apakah itu yang di tangan kananmu, hai musa? Berkatalah Musa : ‘ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya’.” Allah berfirman: “Lemparkanlah ia, wahai Musa!” Lalu dilemparkannya tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat”, Allah berfirman: “Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaan semula, dan kepitkanlah tanganmu ke ketiakmu, niscaya ia keluar menjadi putih cemerlang tanpa cacat, sebagai mukjizat yang lain (pula), untuk Kami perlihatkan kepadamu sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami yang besar.”
Sebagai bekal perjalanan ke Jombang, Kiai Cholil memberikan dua keping uang logam kepada As’ad yang cukup untuk ongkos ke Jombang. Setelah berpamitan, As’ad segera berangkat ke Jombang untuk menemui Kiai Hasyim. Tongkat dari Kiai Cholil untuk Kiai Hasyim dipegangnya erat-erat.
Meski sudah dibekali uang, namun As’ad memilih berjalan kaki ke Jombang. Dua keeping uang logam pemberian Kiai Cholil itu ia simpan di sakunya sebagai kenagn-kenangan. Baginya, uang pemberian Kiai Cholil itu teramat berharga untuk dibelanjakan.
Sesampainya di Jombang, As’ad segera ke kediaman Kiai Hasyim. Kedatangan As’ad disambut ramah oleh Kiai Hasyim. Terlebih, As’ad merupakan utusan khusus gurunya, Kiai Cholil. Setelah bertemu dengan Kiai Hasyim, As’ad segera menyampaikan maksud kedatangannya, “Kiai, saya diutus oleh Kiai Cholil untuk mengantarkan dan menyerahkan tongkat ini,” kata As’ad seraya menyerahkan tongkat.
Kiai Hasyim menerima tongkat itu dengan penuh perasaan. Terbayang wajah gurunya yang arif, bijak dan penuh wibawa. Kesan-kesan indah selama menjadi santri juga terbayang dipelupuk matanya. “Apa masih ada pesan lainnya dari Kiai Cholil?” Tanya Kiai Hasyim. “ada, Kiai!” jawab As’ad. Kemudian As’ad membacakan surat Thaha ayat 17-23.
Setelah mendengar ayat tersebut dibacakan dan merenungkan kandungannya, Kiai Hasyim menangkap isyarat bahwa Kiai Cholil tak keberatan apabila ia dan Kiai Wahab beserta para kiai lainnya untuk mendirikan Jamiyyah. Sejak saat itu proses untuk mendirikan jamiyyah terus dimatangkan. Meski merasa sudah mendapat lampu hijau dari Kiai Cholil, Kiai Hasyim tak serta merta mewujudkan niatnya untuk mendirikan jamiyyah. Ia masih perlu bermusyawarah dengan para kiai lainnya, terutama dengan Kiai Nawawi Noerhasan yang menjadi Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri. Terlebih lagi, gurunya (Kiai Cholil Bangkalan) dahulunya pernah mengaji kitab-kitab besar kepada Kiai Noerhasan bin Noerchotim, ayahanda Kiai Nawawi Noerhasan.
Untuk itu, Kiai Hasyim meminta Kiai Wahab untuk menemui Kiai Nawawie. Setelah mendapat tugas itu, Kiai Wahab segera berangkat ke Sidogiri untuk menemui Kiai Nawawie. Setibanya di sana, Kiai Wahab segeraa menuju kediaman Kiai Nawawie. Ketika bertemu dengan Kiai Nawawie, Kiai Wahab langsung menyampaikan maksud kedatangannya. Setelah mendengarkan dengan seksama penuturan Kiai Wahab yang menyampaikan rencana pendirian jamiyyah, Kiai Nawawie tidak serta merta pula langsung mendukungnya, melainkan memberikan pesan untuk berhati-hati. Kiai Nawawie berpesan agar jamiyyah yang akan berdiri itu supaya berhati-hati dalam masalah uang. “Saya setuju, asalkan tidak pakai uang. Kalau butuh uang, para anggotanya harus urunan.” Pesan Kiai Nawawi.
Proses dari sejak Kiai Cholil menyerahkan tongkat sampai dengan perkembangan terakhir pembentukan jamiyyah rupanya berjalan cukup lama. Tak terasa sudah setahun waktu berlalu sejak Kiai Cholil menyerahkan tongkat kepada Kiai Hasyim. Namun, jamiyyah yang diidam-idamkan tak kunjung lahir juga. Tongkat “Musa” yang diberikan Kiai Cholil, maskih tetap dipegang erat-erat oleh Kiai Hasyim. Tongkat itu tak kunjung dilemparkannya sehingga berwujud “sesuatu” yang nantinya bakal berguna bagi ummat Islam.
Sampai pada suatu hari, As’ad muncul lagi di kediaman Kiai Hasyim dengan membawa titipan khusus dari Kiai Cholil Bangkalan. “Kiai, saya diutus oleh Kiai Cholil untuk menyerahkan tasbih ini,” kata As’ad sambil menyerahkan tasbih. “Kiai juga diminta untuk mengamalkan bacaan Ya Jabbar Ya Qahhar setiap waktu,” tambah As’ad. Entahlah, apa maksud di balik pemberian tasbih dan khasiat dari bacaan dua Asma Allah itu. Mungkin saja, tasbih yang diberikan oleh Kiai Cholil itu merupakan isyarat agar Kiai Hasyim lebih memantapkan hatinya untuk melaksanakan niatnya mendirikan jamiyyah. Sedangkan bacaan Asma Allah, bisa jadi sebagai doa agar niat mendirikan jamiyyah tidak terhalang oleh upaya orang-orang dzalim yang hendak menggagalkannya.
Qahhar dan Jabbar adalah dua Asma Allah yang memiliki arti hampir sama. Qahhar berarti Maha Memaksa (kehendaknya pasti terjadi, tidak bisa dihalangi oleh siapapun) dan Jabbar kurang lebih memiliki arti yang sama, tetapi adapula yang mengartikan Jabbar dengan Maha Perkasa (tidak bisa dihalangi/dikalahkan oleh siapapun). Dikalangan pesantren, dua Asma Allah ini biasanya dijadikan amalan untuk menjatuhkan wibawa, keberanian, dan kekuatan musuh yang bertindak sewenang-wenang. Setelah menerima tasbih dan amalan itu, tekad Kiai Hasyim untuk mendirikan jamiyyah semakin mantap. Meski demikian, sampai Kiai Cholil meninggal pada 29 Ramadhan 1343 H (1925 M),jamiyyah yang diidamkan masih belum berdiri. Barulah setahun kemudian, pada 16 Rajab 1344 H, “jabang bayi” yang ditunggu-tunggu itu lahir dan diberi nama Nahdlatul Ulama (NU).
Setelah para ulama sepakat mendirikan jamiyyah yang diberi nama NU, Kiai Hasyim meminta Kiai Ridhwan Nashir untuk membuat lambangnya. Melalui proses istikharah, Kiai Ridhwan mendapat isyarat gambar bumi dan bintang sembilan. Setelah dibuat lambangnya, Kiai Ridhwan menghadap Kiai Hasyim seraya menyerahkan lambang NU yang telah dibuatnya. “Gambar ini sudah bagus. Namun saya minta kamu sowan ke Kiai Nawawi di Sidogiri untuk meminta petunjuk lebih lanjut,” pesan Kiai Hasyim. Dengan membawa sketsa gambar lambang NU, Kiai Ridhwan menemui Kiai Nawawi di Sidogiri. “Saya oleh Kiai Hasyim diminta membuat gambar lambang NU. Setelah saya buat gambarnya, Kiai Hasyim meminta saya untuk sowan ke Kiai supaya mendapat petunjuk lebih lanjut,” papar Kiai Ridhwan seraya menyerahkan gambarnya.
Setelah memandang gambar lambang NU secara seksama, Kiai Nawawie memberikan saran konstruktif: “Saya setuju dengan gambar bumi dan sembilan bintang. Namun masih perlu ditambah tali untuk mengikatnya.” Selain itu, Kiai Nawawie jug a meminta supaya tali yang mengikat gambar bumi ikatannya dibuat longgar. “selagi tali yang mengikat bumi itu masih kuat, sampai kiamat pun NU tidak akan sirna,” papar Kiai Nawawie.
Bapak Spiritual
Selain memiliki peran yang sangat penting dalam proses pendirian NU yaitu sebgai penentu berdirinya, sebenarnya masih ada satu peran lagi, peran penting lain yang telah dimainkan oleh Kiai Cholil Bangkalan. Yaitu peran sebagai bapak spiritual bagi warga NU. Dalam tinjauan Mujammil Qomar, Kiai Cholil layak disebut sebagai bapak spiritual NU karena ulama asal Bangkalan ini sangat besar sekali andilnya dalam menumbuhkan tradisi tarekat, konsep kewalian dan haul (peringatan tahunan hari kematian wali atau ulama).
Dalam ketiga masalah itu, kalangan NU berkiblat kepada Kiai Cholil Bangkalan karena ia dianggap berhasil dalam menggabungkan kecenderungan fikih dan tarekat dlam dirinya dalam sebuah keseimbangan yang tidak meremehkan kedudukan fikih. Penggabungan dua aspek fikih dan tarekat itu pula yang secara cemerlang berhasil ia padukan dalam mendidik santri-santrinya. Selain membekali para santrinya dengan ilmu-ilmu lahir (eksoterik) yang sangat ketat –santrinya tak boleh boyong sebelum hafal 1000 bait nadzam Alfiah Ibn Malik, ia juga menggembleng para santrinya dengan ilmu-ilmu batin (esoterik).
Kecenderungan yang demikian itu bukannya tidak dimiliki oleh pendiri NU lainnya. Tokoh lainnya seperti Kiai Hasyim, memiliki otoritas yang sangat tinggi dalam bidang pengajaran kitab hadits shahih Bukhari, namun memiliki pandangan yang kritis terhadap masalah tarekat, konsep kewalian dan haul. Kiai Hasyim merupakan murid kesayangan dari Syaikh Mahfuzh at Tarmisi. Syaikh Mahfuzh adalah ulama Indonesia pertama yang mengajarkan kitab hadits Shahih Bukhari di Mekkah. Syaikh Mahfuzh diakui sebagai seorang mata rantai (isnad) yang sah dalam transmisi intelektual pengajaran kitab Shahih Bukhari.
Karena itu, Syaikh Mahfuzh berhak memberikan ijazah kepada murid-muridnya yang berhasil menguasai kitab Shahih Bukhari. Salah seorang muridnya yang mendapat ijazah mengajar Shahih Bukhari adalah Kiai Hasyim Asy’ari. Otoritas Kiai Hasyim pada pengajaran kitab hadits Shahih Bukhari ini diakui pula oleh Kiai Cholil Bangkalan. Di usia senjanya, gurunya itu sering nyantri pasaran (mengaji selama bulan puasa) kepada Kiai Hasyim. Ini merupakan isyarat pengakuan Kiai Cholil terhadap derajat keilmuan dan integritas Kiai Hasyim.
Sebagai ulama yang otoritatif dalam bidang hadits, Kiai Hasyim memiliki pandangan yang kritis terhadap perkembangan aliran-aliran tarekat yang tidak memiliki dasar ilmu hadits. Ia menyesalkan timbulnya gejala-gejala penyimpangan tarekat dan syariat di tengah-tengah masyarakat. Untuk itu, ia menulis kitab al Durar al Muntasyirah fi Masail al Tis’a’Asyarah yang berisi petunjuk praktis agar umat Islam berhati-hati apabila hendak memasuki dunia tarekat.
Selain kritis dalam memandang tarekat, Kiai Hasyim juga kritis dalam memandang kecenderungan kaum Muslim yang dengan mudah menyatakan kewalian seseorang tanpa ukuran yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan secara teologis. Terhadap masalah ini, Kiai Hasyim memberikan pernyataan tegas:
“Barangsiapa mengaku dirinya sebagai wali tetapi tanpa kesaksian mengikuti syariat Rasulullah SAW, orang tersebut adalah pendusta yang membuat perkara tentang Allah SWT.”
Lebih tegas beliau menyatakan:
“Orang yang mengaku dirinya wali Allah SWT, orang tersebut bukanlah wali yang sesungguhnya melainkan hanya wali-walian yang jelas salah sebab dia mengatakan sir al-khushusiyyah (rahasia-rahasia khusus) dan dia membuat kedustaan atas Allah Ta’ala.”
Demikian pula terhadap masalah haul. Selain Kiai Hasyim, para pendiri NU lainnya seperti Kiai Wahab dan Kiai Bisri Syansuri juga bersikap kritis terhadap konsep haul dan mereka menolak untuk di-haul-i (Qomar, 2002). Akan tetapi di kalangan NU sendiri, acara haul telah menjadi tradisi yang tetap dipertahankan sampai sekarang. Para wali atau kiai yang meninggal dunia, setiap tahunnya oleh warga nahdliyih akan di-haul-i dengan serangkaian kegiatan seperti ziarah kubur, tahlil dan ceramah agama untuk mengenang perjuangan mereka agar dapat dijadikan teladan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
Mengapa masalah tarekat, konsep kewalian dan haul yang mendapat kritikan pedas dari Kiai Hasyim tersebut, justru ditradisikan di kalangan NU? Apakah warga NU sudah tidak lagi mengindahkan peringatan Kiai Hasyim? Untuk memastikan jawabannya, menurut Mujammil Qomar, agak sulit, mengingat NU bisa berkembang pesat juga karena usaha dan pengaruh Kiai Hasyim.
Wallahu a’lam.
Penulis: Moh. Syaiful Bakhri
Penulis buku “Syaikhona Cholil Bangkalan: Ulama Legendaris dari Madura” dan sekretaris Lajnah Ta’lif Wan Nasr NU Kabupaten Pasuruan. Pemuatan artikel ini juga merupakan penghormatan dan dukungan moril kepada PCNU Kab. Pasuruan yang berusaha mendorong terciptanya masyarakat yang maju, sejahtera dan berakhlakul karimah dengan menerbitkan buletin dua bulanan. Semoga usaha penerbitan ini bisa istiqamah.
Surabaya (ANTARA
News) - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) telah menyerahkan data
terkait dengan keberadaan 12 yayasan berpaham radikal kepada pemerintah
untuk ditindaklanjuti.
"Kami telah merekomendasikan ke-12 yayasan itu agar dipantau
gerakannya, bahkan sebaiknya dibubarkan saja," kata Ketua Umum PBNU
Said Aqil Siradj setelah melantik kepengurusan PWNU Jatim 2013--2018 di
Surabaya, Kamis.
Dalam pelantikan pengurus baru yang dirangkai dengan halalbihalal
bersama pengurus NU se-Jatim itu, dia menjelaskan bahwa ke-12 yayasan
itu tersebar di beberapa daerah di Indonesia.
"Ada di Surabaya, Cirebon, Bondowoso, Bogor, Makassar, Bandar Lampung, Mataram, Jakarta, dan Sukabumi," katanya.
Menurut dia, ke-12 yayasan tersebut mengajarkan aliran Wahabi yang
sebenarnya bukan radikal. Akan tetapi, bila diartikan secara salah,
justru bisa mengarah kepada teroris.
"Wahabinya bukan teroris, tetapi ajarannya yang radikal itu jika
dipoles sedikit bisa mengarah ke teroris. Buktinya, pentolan teroris di
Indonesia bersumber dari situ semua," katanya.
Selain menyerahkan
data-data itu kepada Pemerintah, PBNU juga telah menginstruksikan
kepada semua pengurus NU dari ranting, cabang, hingga wilayah untuk
mewaspadai aliran itu.
"Kita hanya bisa menjaga agar warga NU, terutama anak-anak muda
agar tidak tertarik kepada mereka. Itu yang akan kita jaga dengan
memberi pemahaman yang benar," katanya.
Ditanya validitas data ajaran ke-12 yayasan yang bisa mengarah
kepada teroris, dia menjamin data yang dimiliki PBNU adalah valid.
"Masak, saya asal ngomong, ya, tentu ada datanya," katanya.
Dalam acara yang tidak dihadiri satu pun dari Cagub Jatim itu, dia
mengatakan bahwa PBNU akan selalu mendukung langkah Pemerintah untuk
memerangi aksi teroris di Indonesia.
"Teroris itu harus kita lawan, teroris itu musuh kita bersama,
bahkan kita sudah berpesan kepada Presiden agar tidak takut membubarkan
ormas radikal. Kita (PBNU) selalu di belakang Pemerintah untuk urusan
ini," katanya. (E011/D007)
EMBUN menggelinangi pohon-pohon mawar di depan rumah
Ika. Pagi pertama saat kelopaknya merekah, gadis itu sudah menghitung
masa sepekan saatnya memanen wangi harumnya. “Nduk…itu sudah mekar
mawarnya,” seru ibu Ika sembari membuka pagar pintu rumah mereka
Warna merahnya pas berpadu dengan beningnya air. Dilatarbelakangi langit
jingga subuh. Ika seperti melihat keajaiban dari pinggir jendela
kamarnya. Si Rosaceae ini selalu memikat hatinya, memekatkan sel abu-abu
di otaknya untuk berpikir tentang cinta, cinta, dan cinta usai dihirup.
Terlahir sebagai anak tunggal, cinta ayah dan ibu Ika memang tercurah
hanya buat putrinya. Mulai dari bayi, kanak-kanak, remaja, dan kini
berstatus mahasiswi, Ika masih menjadi nomor satu di mata orangtuanya.
Pantang untuk ditolak keinginan hatinya.
“Ibu, aku mau merangkainya di vas baru. Beli yuk di Pasar Tanjung yang agak gedean. Panen mawarnya banyak banget!”seru Ika.
“Kamu pintar merawatnya, Nduk, jadi mawarnya senang lalu mekar semua,”
puji si ibu. Mereka tertawa bersama diliputi ekstasi bau mawar meruapkan
bahagia.
++++
Suatu sore Ika merasa ada yang janggal sepulang kuliah. Tapi dia tidak
menyadarinya. Sesampai di rumah dia ingin menanyakan tugas dengan
menelepon temannya. Segenggam handphone tidak terlihat di dalam tas
jinjingnya.
“Bapak, miscall hapeku dong. Kok, nggak ada ya di tas,” tanya Ika.
“Pasti kelupaan lagi naruhnya,” jawab bapak Ika sembari memencet keypad hapenya.
Suara ringtone lagu Westlife sama sekali tidak terdengar. Bapak
pun mulai dilanda cemas pula. Yang keluar dari mulutnya serupa ucapan
menenangkan hati sang anak. Ika dilanda gundah gulana.
“Kalau masih rezeki, ya nanti ketemu lagi, Nduk,” ujar si Bapak sambil
mengelus rambut anaknya. Ika tidak menyahut. Wajahnya manyun. Matanya
menatap rangkaian mawar di pojok meja. Hatinya meluruh ikhlas sesaat
setelah melihat si merah hati.
++
Selang dua hari kemudian, dua sahabat Ika berkunjung. Lita dan Gesti
bukan lagi sekadar sahabat, layaknya mereka disebut saudara kandung
karena ada saat suka serta duka si anak tunggal itu.
“Gimana sudah ketemu hapenya?” ujar Lita.
“Belum nih, pengen beli lagi belum ada duit,” jelas Ika.
“Ya sudah, biasanya kalau kehilangan sesuatu, Insya Allah dapat ganti yang lebih baik,” imbuh Gesti.
“Wah aku maunya dapat calon suami kalau gitu. Yang baik hati, rajin, tidak sombong, rajin menabung,” gurau Ika.
Segera timpukan bantal menghujani badan langsing Ika. Tawa cekikikan
memecah di ruang tamu rumah sederhana itu. Sayup-sayup hidung tiga gadis
ini dimanjakan aromaterapi alami dari bunga mawar di seberang tempat
mereka duduk. Harumnya melekatkan hati satu sama lain.
+++
Klik..klik..tangan Ika tangkas mengklik toolbar media sosial Facebook.
Dia melihat sejumlah permintaan pertemanan. Beberapa dia tunda karena
sama sekali tidak mengenal wajah di foto-foto bergaya narsis itu.
Hei..matanya lekat di salah satu permintaan pertemanan. Akunnya bernama
Ajuniarto. Link teman-teman yang sama mencapai 50 lebih. Siapa dia?
Upps, profilnya terkunci tidak bisa dibuka orang yang belum jadi
temannya. Rasa penasaran Ika makin membuncah karena dua sahabatnya sudah
menjadi teman si pria bertampang sendu itu. Pernah bertemukah aku? Ika
membatin.
Otak, perasaan, dan tangan Ika rupanya sinkron. Jadilah mereka teman di
dunia maya. Ternyata teman barunya online pula. Tanpa ragu disapanya.
“Assalamualaikum, salam kenal mas Ajuniarto. Enaknya dipanggil siapa
ya?”
“Waalaikumsalam. Juni saja. Terima kasih ya sudah di-approve.”
“Iya soalnya Mas berteman dengan dua sobatku, Lita dan Gesti. Kok kenal mereka?”
“Kita teman SMP.”
“Loo, kalau begitu seangkatan dong sama aku.”
“Iya..”
Percakapan tiba-tiba terhenti karena sinyal Facebook si pria terputus.
Kalimat Ika selanjutnya hanya terkirim sebagai sebuah pesan saja di inbox teman barunya. Tidak mengapa, pikirnya, pasti kapan-kapan bisa chatting lagi.
Tiba-tiba di benak Ika melintas keinginan mengganti foto profilnya
dengan koleksi foto mawar merahnya. Dia pilih bidikan gambarnya berupa
setangkai mawar dikelilingi putihnya salju. Cukup syahdu dan melumerkan
hatinya.
++++
Esoknya ada sebuah nomor telepon mengirimkan SMS pada Ika. Wah, rupanya
si kenalan baru itu menyapanya. Meski agak dongkol karena Juni terkesan
coba-coba dengan nekad mencatat nomor di profil FB-nya, Ika tetap
berbaik sangka. Apalagi pria yang sebaya dengannya itu sedang kuliah di
Surabaya. Tak perlulah Ika merasa terganggu bila saja tiba-tiba Juni
berbuat lebih jauh. Balasannya hanya datar saja. Waalaikumsalam, terima
kasih.
Kaki Ika menjejak di tanah kering bulan Juni. Tekadnya tetap kukuh
berangkat kuliah meski terik mentari juga bersikeras menerpa kulit
langsatnya. Tiba-tiba saja telepon genggam baru hadiah dari sang ayah
berdering. Matanya mendelik melihat layar. Si pria kenalan absurdnya
menelepon.
“Ada apa, Mas?” Ika mengangkat telepon dengan hati gondok.
“Sedang di mana?” tanya Juni.
“Habis kuliah di kampus. Sudah dulu ya, pengen cepat pulang nih!”
“Kalau boleh saya jemput di kampus.”
Hati Ika serasa diguyur minyak panas mendengar permintaan itu. Segera ia
tutup pembicaraan itu dengan mencegat angkot. Yang tidak
disangka-sangka, kepulangannya justru membawa kejutan lebih dahsyat.
“Nduk, tadi ada temanmu telepon ke rumah,” ujar Ibu.
“Siapa ya, Bu?” respons Ika sambil bersiap-siap mengganti kerudungnya pertanda segera beranjak ke sekolah tempatnya mengajar.
“Dari suaranya kelihatannya sopan anaknya. Pakai bahasa Jawa halus, Jun..Jun.., begitu sepertinya.”
Tangan Ika berhenti merapikan jarum pentul. “Mau apa dia, Bu?” kata Ika.
“Mau ke rumah kita. Sekarang di perjalanan.”
“Bu, bilang saja aku nggak ada ya, sibuk,” tegas Ika sembari menyambar tasnya.
Tok..tok..Pintu depan rumah sederhana Ika diketuk pelan. Belum sempat
Ika kabur, Ibu bergegas membukakan. Dia melihat seorang pria berusia
sekitar 23 tahun di depannya. Hanya selarik kaos lusuh disanding dengan
celana jeans belel dan sandal jepit tipis membalut si pria.
Entah mengapa Ibu percaya saja dan mempersilakan si pria dengan tas
kertas coklat di tangannya itu masuk. Segelas teh hangat bahkan
disuguhkan di hadapannya. Dada Ika yang tengah berada di kamar terasa
ditusuk-tusuk sembilu, telapak tangannya mendingin. Spons bedaknya sudah
menggeletak di kasurnya, tak jadi memulas wajah.
Dugaannya salah, pria itu tidak sepolos wajahnya. Bahkan superekstrim
nekadnya untuk berkenalan. Ah, karakter seperti ini tidak ditemuinya di
seluruh literatur psikologi yang dipelajarinya. Bagaimana menanggapi
orang semacam dia?
+++++
Dua tangkai mawar merah di gelas kecil itu menyebarkan wangi eksotisnya.
Dini hari ini istimewa. Pria ekstrim itu masih menyesap kantuknya. Ika
mau, sang pria merasakan keekstriman serupa yang ia terima sekira tiga
tahun lalu. Menggiring egonya ke pinggiran hati dengan sekepal mawar
merah dalam kertas coklat. Merah..wangi..merah..kemudian sejuk di
hatinya kala itu.
Telapak tangan sang pria dikecupnya. Berterima kasih atas kenekatannya
dulu menunjukkan kecintaan penuh dalam kesahajaan. Mata si pria
mengerjap-ngerjap. Dielusnya kepala Ika. “Kenapa, Nduk? Ini masih tengah
malam deh.”
“Ini sudah bulan Juni, Nda. Bulan kita.”
Juni membalas pernyataan Ika dengan senyuman. “Terus kenapa?” ujarnya menggoda.
“Mawar ini saksinya. Juni kita terlahir hanya selisih sehari, 7 dan 8
Juni. Juni kita terpaut dan Juni pula bibit mawar merah kita dihembuskan
ruhnya,” jawab Ika sambil mengelus perutnya.
“Mulai deh, lebay-nya.” Juni mulai meringis nakal.
“Pokoknya, it’s my June. Mari kita rayakan bersama mawar-mawar merahku karena cinta telah cukup untuk cinta.”
Hati kedua insan ini pun bertaut dalam lintasan mawar bulan Juni. Menuai
musim-musim semi berikutnya yang tak pernah berkesudahan bersama
bibit-bibit berikutnya yang siap menggantikan batang rapuh.
Mulai tanggal 30 Mei 2013 dunia perfilman Indonesia akan kembali merelease sebuah film drama kolosal yang di adaptasi dari kisah nyata tokoh sekaligus pahlawan nasional, yakni Hadaratussyaikh (Maha guru) KH Hasyim Asy'ari.
Bagi kalangan umat Islam Indonesia, sosok KH Hasyim As'ari tentunya tidak asing lagi. KH Hasyim Asy'ari dimasanya tidak hanya dikenal sebagai seorang ulama atau kyai pimpinan pondok pesantren Tebu Ireng semata. Dimasa pergolakan jelang kemerdekaan Republik Indonesia, merupakan masa- masa kritis yang dihadapi oleh segenap stakeholder bangsa, termasuk para ulama masa itu yang di antaranya KH Hasyim As'ari.
Di masa penjajahan, ulama dan para pengikutnya (santri), tidak hanya konsentrasi pada pendalaman nilai dan aktivitas spiritual semata. Namun lebih dari itu, kondisi bangsa yang harus merdeka dari penjajahan juga tak luput dari perhatian dan aktivitas gerakan para ulama dan santri dimasa itu. Perlu untuk diketahui, system dan model pendidikan "pesantren" merupakan original activation study bangsa Indonesia dan merupakan satu-satunya di dunia.
Begitulah film "Sang Kiai" memulai cerita dan settingnya. Sebuah gambaran tentang pesantren yang sederhana dan humanis, menjadi visual opening dalam film tersebut. Masyarakat Dusun Tebu Ireng Cukir, Kabupaten Jombang, Jawa Timur tempat dimana KH Hasyim Asy'ari bermukim sekaligus membina para santri dan semua golongan masyarakat setempat.
Sempat diceritakan dalam film Sang Kiai tersebut, dimana pesantren tidak mematok biaya bagi semua golongan masyarakat yang hendak mendaftarkan anaknya untuk belajar di pesantren. Meski seorang kaya raya datang dan menyerahkan hasil panen yang melimpah kepada pesantren sebagai biaya masuk pendidikan pesantren anaknya, KH Hasyim Asy'ari juga menerima seorang anak dari keluarga tidak mampu yang diantarkan ayahnya untuk belajar dipesanteren Tebu Ireng tersebut.
"Sang Kiai" Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari tidak hanya cerdas dan pintar mengelola pesantren, guna mememnuhi kebutuhan sandang- pangan keluarga dan para santri yang "nyantren" di Tebu Ireng, KH Hasyim Asy'ari juga aktif sebagai petani, bercocok tanam buah- buahan dan sayurmayur. Dengan demikian, komunitas pesantren bisa tetap independent dan tidak bergantung pada kelompk kekuasaan manapun. Fenomena ini mungkin sudah jarang ditemukan pada pesantren- pesantren zaman ini yang "biasanya" sudah terafiliasi dengan kelompok politik karena pesantren memiliki basis massa yang rill.
Namun siapa sangka, dari sebuah tradisi pesantren yang sederhana namun memiliki basis yang sangat kuat dimasyarakat itu, sebuah aktifitas menuju gerakan revolusi kemerdekaan Republik Indonesia 1945 lahir dan dirancang. Tak ayal, penjajah baik Jepang maupun Belanda- sekutu, berupaya keras menyingkirkan para ulama yang memiliki basis pesantren.
Dalam film "Sang Kiai" yang disutradarai Rako Prijanto ini, setting konflik dimulai pada rentang waktu tahun 1942- 1943 saat jelang detik- detik akhir kemerdekaan Republik Indonesia sebelum kedatangan tentara sekutu. Saat itu penjajahan Jepang masih berkuasa di Indonesia dan berambisi memenangkan perang Asia timur raya guna menjadi penguasa Asia. Satu- persatu ulama pimpinan pondok pesantren dihampir seluruh pulau Jawa diculik dan siksa, bahkan tak jarang diantaranya ada yang dihukum pancung hingga mininggal.
Secara utuh, Film "Sang Kiai" sesungguhnya mencoba menampilkan sosok KH Hasyim Asy'ari yang hidup pada dua rezim penjajahan, yakni Jepang dan Belanda- Sekutu. Sebagai sebuah film drama kolosal yang melibatkan 5000 talent lebih, setting lokasi, artistik, visual efect pertempuran yang disajikan sungguh menarik. Lebih menarik lagi, jika menyimak bagaimana penulis skenario dan sutradara mampu menyajikan sisi universal "Sang Kiai".
"Sang Kiai" menampilkan sosok KH Hasyim Asy'ari tidak melulu sebagai tokoh spiritual pimpinan ormas Islam Nahdlatul Ulama terbesar di Indonesia semata, malah sisi tersebut bisa dibilang hanya ditampilkan 5% saja dari keutuhan cerita. Lebih dari itu, film "Sang Kiai" mengeksplore sisi- sisi Universalisme, Nasionaliseme dan Humanisme seorang ulama. Universal, karena perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia yang digagas oleh para Ulama dan santrinya merupakan kepentingan segenap rakyat Indonesia, baik itu Islam, Kristen, Hindu, Budha dan lainya.
Sementara Nasionalisme "Sang Kiai" tergambar jelas pada adegan, saat Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari didatangi utusan Soekarno untuk menyampaikan sebuah pesan pertanyaan, ‘Apakah hukumnya membela tanah air, bukan membela Allah ? ’, dengan sigap KH Hasyim Asy’ari menjawab; “Hukum membela negara dan melawan penajajah adalah fardu ain (Dalam Islam, Fardu Ain berarti kewajiban yang harus dan tunggal, tidak dapat diwakilkan). Humanisme, karena sosok "Sang Kiai" ditampilkan sebagai orang yang tidak memandang sesuatu apapun berdasarkan kelas dan pangkatnya.
Bahkan pada satu adegan, Sang Kyai tidak segan- segan memerintahkan putra sulung dan bungsunya untuk ikut berperang melawan penjajah, sama seperti yang dilakukan tentara- tentara kemerdekaan lainya. "Sang Kiai", juga tidak lantas memarahi salah seorang murid laki- lakinya karena menyukai seorang perempuan yang mereka temui dipasar, bahkan Sang Kiai menawarkan diri kepada muridnya tersebut untuk segera menemui ayah sang gadis agar segera dinikahkan untuk muridnya tersebut.
Dalam film Sang Kiai ini pun disajikan berbagai makna cinta dalam ceritanya. Cinta Sang Kiai pada Bangsa dan agamanya dan Cinta Sang Istri pada suaminya yang berjuang merebut kemerdekaan. Sekali, lagi Sang Kiai berhasil membuat film ini menjadi Universal dan Humanis, sehingga layak dinikmati oleh semua kalangan. Karena biasanya, film yang mengadaptasi cerita tokoh kelompok tertentu, cenderung terjebak pada tema- tema tokoh ekslusive yang sekterian, sehingga film yang merupakan karya seni bebas nilai menjadi eksclusive bagi kalangan tertentu saja. (Abdul Sutara/KW)
Sebagai seorang sutradara berpengalaman, Rako Prijanto ternyata masih
mengalami kesulitan untuk mengetahui produk asli Indonesia. Namun siapa
yang menduga, dari pertanyaannya tersebut ia justru menemukan ide untuk
membuat film mengenai sesuatu yang lahir dari Indonesia. Tidak
tanggung-tanggung, sosok yang ingin diangkatnya ke layar lebar adalah
pendiri Nahdlatul Ulama (NU) yaitu KH. Hasyim Asy'ari.
Rako
berniat untuk mengangkat sosok KH. Hasyim Asy'ari ke layar lebar di
bawah naungan rumah produksi Rapi Films pada periode menjelang
kemerdekaan yaitu 1942-1947. Seperti diketahui, film perjuangan bukanlah
hal yang baru karena sebelumnya sudah ada Merah Putih (2009), Darah Garuda (2010), Hati Merdeka (2011), dan Soegija (2012). Namun sutradara kelahiran Magelang, Jawa Tengah, 4 Mei 1973 ini menegaskan kalau Sang Kyai bukanlah film perang.
Apa alasan Rako membuat film Sang Kyai?
dan mengapa dia tertarik untuk mengangkat kisah KH. Hasyim Asy'ari?
Berikut adalah bincang-bincang Cinema 21 dengan Rako Prijanto saat
ditemui di Gedung Juang 45, Menteng, Jakarta Pusat.
Bagaimana awalnya Anda bisa ditunjuk untuk menyutradarai film Sang Kyai? "Idenya
memang dari saya. Sebagai sutradara, saya suka bertanya sendiri
mengenai apa yang asli di Indonesia. Kadang kalau abis pulang dari luar
negeri terus sampai Cengkareng, pertanyaan itu mulai datang kembali.
Pada suatu ketika saya menukan tulisan Google yang bertajuk 'menjadi
Nahdlatul Ulama (NU) menjadi Indonesia'. Darisana saya coba pahami
karakter ulama NU dan merucut ke sosok KH. Hasyim Asy'ari. Mulai
darisitu saya coba aplikasikan dan tulis dalam bentuk kreasi serta
tawarakan ke pihak Rapi Films, Insya Allah diterima"
Apakah sebelumnya Anda sempat terfikir sosok lain selain KH. Hasyim Asy'ari? "Nggak sih. Karena memang sejak awal merucutnya ke sosok beliau"
KH. Hasyim Asy'ari bukanlah sosok yang sembarangan, apa Anda nggak merasa terbebani dengan nama besar beliau? "Pastinya
beban ini terasa berat apalagi kita belum syuting dan banyak pihak yang
sangat berharap kalau film ini memiliki hasil yang maksimal. KH. Hasyim
Asy'ari bukan saja milik NU tapi milik bangsa dan mereka semua
mengidolakannya, makanya bebannya sangatlah berat"
Persoalan
beban tentunya sudah Anda pikirkan sebelumnya, bagaimana solusinya agar
film Sang Kyai bisa sesuai dengan harapan orang banyak? "Saya bukanlah orang yang hidup dari lingkungan pesantren, makanya persiapan saya sangatlah lama untuk menyelami kultur itu"
Bagaimana cara Anda untuk menyelami kultur tersebut? "Ya
saya bertemu dengan Kyai Sepuh dan keluarga beliau. Alhamdulilahnya
mereka juga turut membantu mengajukan izin ke pihak PBNU demi
terlaksananya film Sang Kyai ini"
Sejak kapan Anda mulai melakukan riset tentang KH. Hasyim Asy'ari? "Saya
melakukan riset sejak tahun 2010. Saya menggunakan literatur bacaan
skiripsi dari beberapa orang karena itu sudah terbukti secara akademis
dan bisa dipertanggung jawabkan. Tentunya hal itu belum cukup untuk bisa
meresapi unsur pesantren, makanya saya harus ketemu dengan sesepuh
pesantren dan mencoba menyelaminya"
Film perjuangan kan bukan suatu hal yang baru, apa yang membedakan Sang Kyai dengan film perjuangan lainnya? "Pada
intinya film ini mengangkat unsur spiritual religius terutama Islam,
yang berpengaruh untuk memperjuangkan dan pertahankan kemerdekaan.
Kenyataanya dulu kita memang bersenjatakan bambu runcing dan batu untuk
melawan penjajah yang menggunakan senjata mesin. Mereka sadar itu nggak
cukup dan punya rasa takut, tapi secara mental jihad dan meneriakkan
Allahu Akbar mereka jadi lebih berani. Menurut saya unsur itulah yang
belum tergarap. Ini bukanlah film perang, karena didalamnya perang itu
hanya 15 persen aja"
Karena ini menceritakan di masa penjajahan Jepang apakah Anda juga akan menggunakan aktor Jepang asli? "Iya,
karena kalau tidak nanti bisa susah dialognya. Ada sekitar 5 sampai 6
orang yang berdialog. kalau tentaranya kuta bisa minta bantuan dan
kerjasama dengan mahasiswa daerah"
Apakah film Sang Kyai nanti bisa dinikmati oleh pemeluk Agama selain Islam? "Tentu
aja bisa karena film ini nggak digarap segmented. Film ini mengisahkan
tentang perjuangan untuk bangsa jadi semuanya bersatu"
Apa yang ingin Anda sampaikan di film Sang Kyai dan seberapa penting publik harus melihat film Anda? "Pesannya
adalah perjuangan spiritual sangat mempengaruhi keutuhan negeri ini.
Buat saya film ini penting sekali, kepribadian KH. Hasyim Asy'ari bisa
jadi referensi dan teladan"
Poster resmi film Negeri 5 Menara; Source: //21cineplex.com
Beberapa bulan terakhir ini CNN mempopulerkan terminologi baru dalam relationship antar sesama dua orang pria yaitu: “Bromance”. Jangan membayangkan ilustrasi “Bromance” seperti yang diperankan Tora Sudiro dan Surya Saputra dalam dua sekuel film Arisan!-nya Nia Dinata atau yang dilakonkan Heath Ledger dan Jake Gyllenhaal dalam film garapan Ang Lee yang memenangkan tiga Academy Award Winner: Best Director, Best Music, dan Best Screenplay; yaitu film Brokeback Mountain. Kendati perilaku “Bromance” memang cenderung menggambarkan “kemesraan” hubungan antar dua orang pria, namun secara seksualitas tendensi orientasi “Bromance” tidak mengarah pada gay-man-relationship. CNN sendiri mengistilahkan “Bromance” sebagai hubungan sangat dekat non-seksual antara dua laki-laki yang heteroseksual.
Bagi Anda yang tergolong movie freak, tentu sudah mengenal beberapa film Hollywood yang menjadikan “bromance” sebagai latar belakang cerita; seperti Wedding Crashers (Vince Vaughn dan Owen Wilson), Superbad (Michael Cera dan Jonah Hill), dan yang terakhir komedi romantis I Love You, Man (Paul Rudd dan Jason Segel). Bahkan selain George Clooney dan Brad Pitt yang popular disebut dengan “Raja-Raja Bromance”, beberapa artis luar negeri lain juga memiliki memiliki pasangan bromance tersendiri, sebutlah: Zach Braff dan Donald Faison (yang dikenal dalam serial Srubs); Mark Wright dan James Arg Argent (bahkan mereka menyebut diri mereka dengan “Marg”); Gary Barlow dan Marcus Collins (menjadi teman dekat setelah bintang Take That ini menjadi mentor Marcus di The X Factor); hingga yang fenomenal karena keunikannya yaitu David Beckham dan James Corden yang dipasangkan pada adegan komedi dalam Sport Relief.
David Beckham & James Corden dalam Sport Relief; Source: //yahoo.com
Salah satu mutiara yang saya temukan dalam film Negeri 5 Menara yaitu konsep nilai-nilai “Bromance” ala pesantren (baca: ukhuwwah), yang indah diaplikasikan secara berjamaah oleh enam anak muda: Sahibul Menara….
*******
Pada Ahad, 15 Januari 2012 saya mengikuti seminar dan workshop menulis novel bersama Helvy Tiana Rosa di Universitas Indonesia. Satu yang terngiang saat beliau memuji bahwa sosok Ahmad Fuadi merupakan Penulis cerdas alumni Gontor (1988-1992) yang menggabungkan konsep novel “Ayat-Ayat Cinta” (Habiburrahman El-Shirazy) dengan setting lingkungan religius serta percintaan; dengan novel “Laskar Pelangi” (Andrea Hirata) yang kondang dengan konsep mimpi besar khas anak daerah, sehingga menjelma novel berjudul: “Negeri 5 Menara”.
Selama menikmati film “Negeri 5 Menara” berdurasi 120 menit di XXI Ciwalk Bandung itu, benak saya seperti terlempar pada kenangan saat masih mondok selama 7 tahun secara formal di pesantren Persatuan Islam No.19 Bentar-Garut, rentang periode 1994-2001. Lalu ditambah 7 tahun lagi secara informal di pesantren Daarut Tauhiid-Bandung rentang periode 2001-2008. Adegan demi adegan ala anak pesantren: dari mulai tinggal di kamar (bahkan tepatnya lagi saya tinggal di “barak”!) yang sederhana, minum bukan dari gelas melainkan piring, antri untuk mendapatkan makanan dengan menu seadanya, jam belajar agama maupun pelajaran umum dengan jadwal ketat, hukuman dari Qismul Amni (Seksi Keamanan) jika melanggar kedisiplinan… sungguh memantik nostalgia saya. Film garapan Million Pictures dan KG Production itu juga sanggup membuat saya kadang menangis rindu ataupun tertawa lepas mengenai keunikan kehidupan khas di asrama seperti yang ditampilkan apik oleh sang Sutradara muda, Affandi Abdul Rachman (32 tahun), pada film religi pertamanya: Negeri 5 Menara.
Film ini sendiri merupakan kisah perjuangan menggapai mimpi di balik persahabatan dan persaudaraan (dalam konsep Islam disebut “Ukhuwwah”) antara seorang Alif Fikri Chaniago (Gazza Zubizzaretha) asal Bukittinggi, Sumatera Barat sebagai pemeran utama dengan kelima teman barunya: Baso Salahuddin (Billy Sandi) asal Gowa, Sulawesi Selatan; Atang Yunus (Rizki Ramdani) asal Bandung, Jawa Barat; Raja Lubis (Jiofani Lubis) dari Medan, Sumatera Utara; Said Jufri (Ernest Samudera) asal Surabaya, Jawa Timur; dan Dulmajid (Aris Adnanda Putra) asal Sumenep, Madura; pada sebuah pesantren modern di sudut kota Ponorogo, Jawa Timur, yang bernama Pondok Madani. Pada adegan-adegan dalam film ini, konsep ukhuwwah berupa ta’aruf (saling mengenali), tafahum (saling memahami), ta’awun (saling menolong), dan takaful (saling memikul beban) sungguh terlihat secara visual.
Kebiasaan mereka yang senantiasa berkumpul di bawah menara sebelah kanan mesjid Jami’ Pondok Madani, membuat teman-teman di pondok menggelari mereka berenam dengan istilah: Sahibul Menara (Orang Yang Memiliki Menara). Satu adegan yang menjadi benang merah, antara pengwujudan mimpi dan menara, sehingga novel dan film dinamai sama-sama “Negeri 5 Menara” adalah: tatkala mereka berimajinasi mengukir mimpi dengan bentuk awan yang mereka lihat di bawah menara berupa visualisasi benua yang akan mereka kunjungi. Jika menilik bukunya, kelak akan didapati pemetaan awan mimpi Alif (Menara 3) yang menggambarkannya seperti Benua Amerika: Baso (Menara 6) dan Atang (Menara 4) yang sama-sama melukiskannya seperti Benua Asia & Afrika; Raja (Menara 2) yang mengilustrasikannya seperti Benua Eropa; Said (Menara 1) dan Dulmajid (Menara 5) yang juga sama-sama mengkhayalkannya seperti Benua Asia alias Indonesia.
Tokoh sentralnya sendiri sebetulnya diperankan oleh Alif yang setelah kelulusannya di Madrasah Tsanawiyyah Negeri Maninjau, bersama Randai (Sakura “Kipli” Ginting)—dalam novel, nama asli Randai adalah Raymond Jeffry—teman sekelas sekaligus sahabatnya, memiliki hasrat (passion) untuk bersama-sama melanjutkan ke SMA Bukittinggi, Sumatera Barat; kemudian diteruskan kuliah di ITB sebagaimana tokoh idola mereka saat itu B.J. Habibie. Namun, Amak (Lulu Tobing) justru menginginkan Alif masuk ke pondok pesantren untuk mendalami ilmu agama agar kelak dewasa menjadi Tokoh Nasional yang bermanfaat bagi banyak orang seperti Buya Hamka.
Disinilah sebetulnya inti cerita yang menggambarkan pergolakan batin seorang Alif dalam mewujudkan passion-nya untuk sukses dengan versi yang dia pahami. Namun, mimpinya itu terkendala dengan harus menuruti permintaan orangtua sebagai bukti baktinya atas nama seorang anak. Semangat pembuktian pepatah “Man Jadda Wajada” (siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil) yang pertama kali diperkenalkan Ustadz Salman (Donny Alamsyah) inilah; tervisualisasikan pekat pada setiap adegan film dan alur cerita yang skenarionya digarap segar, modern, menghibur, dengan cerita kuat oleh Salman Aristo sekaligus Produser yang sempat sukses juga di balik skenario film “Ayat-Ayat Cinta”, “Laskar Pelangi”, dan “Garuda di Dadaku”.
Ujian aplikasi “Man Jadda Wajada” masih terus bergejolak di pergolakan batin Alif, saat Baso dengan berat hati memutuskan berhenti sebelum waktunya dari pondok demi merawat keluarga satu-satunya, sang nenek, yang tengah sakit keras. Belum lagi ketika Randai sering mengabari perkembangan sekolahnya yang menyenangkan di SMA demi menuju ITB. Ditambah kepergian Ust Salman, wali kelasnya, meninggalkan pesantren untuk fokus mencari uang di luar pesantren demi persiapan menggenapkan setengah agamanya dengan pernikahan. Sungguh, godaan eksternal itu rentan menggoyahkan pilihan hidup Alif untuk selanjutnya tetap bertahan atau keluar dari pondok demi mewujudkan mimpinya.
Kendati akting keenam pemain baru itu tergolong sukses, kehadiran aktor-aktris Senior pun lebih menghidupkan plot yang terbangun seperti Ikang Fauzi, Inez Tagor, Donny Alamsyah, Lulu Tobing, David Chalik, Andhika Pratama, Mario Irwinsyah, dan Aryo Wahab.
*******
Jika dibenturkan antara novel versus film, dibandingkan “Ayat-Ayat Cinta” dan “Laskar Pelangi” yang lebih baik saya baca novelnya; maka untuk “Negeri 5 Menara” saya lebih baik menonton film-nya. Memang sungguh tidak bijak mengomparasikan sebuah film yang diadaptasi dari novel dengan novelnya itu sendiri. Lantaran baik film maupun novel memiliki dunia interpretasinya masing-masing. Itupun salah satu alasan, mengapa setelah “Ayat-Ayat Cinta” dituang ke dalam bentuk layar lebar; kendati memang resmi mencetak box office dengan total penonton 4 juta orang, tetap saja mengundang kekecewaan bagi sebagian orang karena diluar ekspektasi para pembaca fanatiknya.
Selain hanya karena kecerdikan sang Sutradara yang secara teknik pengambilan gambar, piawai membedakan suasana masa lampau di Maninjau dan masa kini di London, dengan menggunakan 2 jenis kamera yaitu ARRI Alexa serta Canon 7D; Penata Sinematografi pun lihai menangkap rangkaian-rangkaian keindahan panorama alam pedesaan baik di Sumatera maupun Jawa; Detail-detail mengagumkan Art Director dari Eros Eflin untuk meyakinkan penonton akan setting tahun ’80-an yang memang sangat terasa mulai dari kalender, Toyota kijang kotak, Honda CB 100, televisi kotak yang klasik, jas almamater biru ITB (kini hijau lumut), bus Harmonis tua, hingga tokoh-tokoh penting seperti Liem swie king dan Habibie (kendati hanya tampilan auditorial); Termasuk original score dan original soundtrack yang digarap apik oleh Yovie Widianto; sesungguhnya satu hal mencolok yang bagi saya Affandi Abdul Rachman sangat sukses memvisualisasikannya, yaitu penggambaran sisi lain pesantren modern yang utuh.
Tolong bandingkan konsepsi pesantren dalam film “Negeri 5 Menara” dengan konsepsi pesnatren dalam film Perempuan Berkalung Surban yang memang mengusung nilai-nilai feminis sehingga pesantren dicitrakan tak ubahnya penjara pengekang kreativitas. Tolong bandingkan juga dengan konsepsi pesantren ala film Ketika Cinta Bertasbih sekuel 1 hingga 2 yang mengesankan pesantren selain nampak begitu tradisional juga konservatif. Ataupun, sekalipun hanya sekilas, tolong bandingkan pula konsepsi pesantren dalam film Bukan Cinta Biasa sekuel 1 yang digambarkan hanya tempatnya orang-orang “kotor” untuk menyucikan diri. Satu-satunya film ber-setting pesantren yang sedikit banyak sanggup mengimbangi “Negeri 5 Menara” adalah film Baik-Baik Sayang.
Sebagai alumni pondok, saya mengakui bahwa memang aneka model pesantren teramat beragam di Republik Indonesia ini. Mengutip hasil penelitian Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) lebih dari sepuluh tahun yang lalu; bahwa tokoh Alif yang sukses berkarir di dunia international merupakan tipe alumni yang semangat menjadi pegawainya tinggi, punya minat lumayan untuk berdakwah, tapi tipis semangat wiraswastanya (31,8%). Para alumni jenis ini kebanyakan memang berasal dari Pondok Gontor di Ponorogo, Jawa Timur, yang menjadi inspirasi setting Pondok Madani. Nah, Affandi Abdul Rachman sukses menampilkan sisi lain model pesantren yang membebaskan para Santri berkarir sesuai passion-nya masing-masing. Tren karir berbasiskan passion yang kini santer digembor-gemborkan Rene Suhardono dengan bukunya “Your Job Is Not Your Career” dan “Ultimate You”, memang sebuah keniscayaan untuk mencetak pribadi sesukses-suksesnya darimanapun background lembaga sekolahnya. Lagi-lagi, film Negeri 5 Menara sukses menyampaikan pesan pendidikan itu….
Walau tentu saja, film Negeri 5 Menara bukanlah maha karya yang tetap saja memiliki hal-hal yang perlu dipertimbangkan kembali dalam catatan kecil saya. Sebutlah adegan saat Alif dan Randai lulus sekolah dengan mencoret-coret pakaian dengan spidol warna-warni. Apakah kebiasaan jelek itu memang sudah menggejala sejak tahun ’80-an? Kemudian adegan merokok Ayah Alif (David Chalik). Apakah pantas film bermisi pendidikan menggambarkan adegan merokok yang jelas-jelas merusak tubuh itu? Kritik sosial yang Salman Aristo selipkan pada dialog saat Sahibul Menara, diwakili Atang (Rizki Ramdani) sebagai juru bicara, mengeluhkan generator kepada Kyai Rais (Ikang Fauzi) sebagai pimpinan pondok; selain memang di novel adegan tersebut tidak pernah ada, bagi saya terlalu verbalistik dengan statement-nya: “jika berani protes harus bisa memberikan solusi, tidak hanya protes saja!”. Pada adegan bab generator ini pula, Atang memang dimunculkan sebagai karakter kritis bak Politikus. Tapi, entah kenapa, pada adegan selanjutnya, Atang pun multi tasking tak ubahnya Teknisi yang mengepalai proyek perbaikan generator! Kenapa tidak adegan ini dipercayakan pada tokoh Dulmajid (Aris Adnanda Putra) yang menurut saya kurang memiliki andil? Open ending yang dipilih pun menurut saya kurang menggigit untuk sebuah film bermisi “bagaimana-mewujudkan-mimpi”. Kok, nampaknya terlalu mudah seorang Alif tiba-tiba sudah go international, menjadi Jurnalis internasional yang sedang meliput suatu acara United Union (PBB) di London! Saya memang menduga, adegan dramatis jatuh-bangun membangun karir Alif sebagai Jurnalis baru ditampilkan pada sekuelnya “Ranah 3 Warna”. Namun, sekedar penggalan-penggalan pendek perjalanan karirnya sebagai Jurnalis kelas dunia untuk meyakinkan penonton, nampaknya perlu divisualisasikan.
Diatas segala kelebihan dan kekurangannya; Salman Aristo, Affandi Abdul Rachman, dan sederet pemain baru maupun kawakan berhasil mengubah karya tulisan Ahmad Fuadi setebal 405 halaman; menjadi bentuk audio visual berdurasi 120 menit dengan tanpa mengurangi semangat, pesan, dan substansi cerita novel aslinya sehingga menjadi film Negeri 5 Menara yang sangat layak ditonton bersama keluarga tercinta.
Kadang imajinasi saya penasaran, sepertinya setelah “Negeri 5 Menara” di-film-kan, selanjutnya “Ranah 3 Warna”, nampaknya trilogi ini akan diakhiri dengan judul berkomposisi tiga kata dengan kata bilangan ganjil di tengahnya, sebutlah usul iseng saya: “Cinta 1 Hati” (selain konon pada buku ketiga menggambarkan tahap perkembangan Alif dewasa yang sesudah memasuki dunia kerja serta gerbang pernikahan, tentu seorang tokoh Alif ditampilkan Santri yang monogami, tidak berpoligami…).
*******
EPILOG
Tepat sehari setelah Kick Andy Show menayangkan episode “Man Jadda Wajada” yang mengangkat film Negeri 5 Menara pada Jumat, 09-Maret-2012 di Metro TV; saya menghubungi “Bromance” saya yang kini kembali mewaqafkan dirinya di pesantren Gontor setelah empat tahun mengabdi di Daarut Tauhiid (DT)-Bandung selaku Sekretaris Pimpinan K.H. Abdullah Gymnastiar a.k.a Aa Gym. Saat itu saya hanya ingin mengucapkan selamat bahwa Gontor dipilih menjadi salah satu tempat syuting film “Negeri 5 Menara”. Satu yang mengejutkan, “Bromance” saya itu mengabari bahwa dia pun dilibatkan sebagai figuran dalam film tersebut! Kendati dia sempat berseloroh menggerutu, hasil syuting dia dari pagi jam 09:00-16:00 WIB, karena kepentingan editing film; hanya diambil dua detik saja! Ya, jika Anda memperhatikan sosok Ayah Sarah (Eriska Rein) saat adegan keponakan Kyai Rais itu dijemput orangtuanya dari pondok Madani, itulah “Bromance” saya: Ust Nur Salis Al-Amin.
Bromance saya, Ust Salis (KIRI) dan Eriska "Sarah" Rein (KANAN); Source: Dokumentasi Pribadi
Kendati sama-sama lulusan pondok, kami memiliki passion berbeda dalam pilihan karir. Dia sebagai alumni Gontor lebih memilih untuk melakukan khidmat (pengabdian) khususnya di bidang mengajar di pondok pesantren baik itu DT maupun almamaternya, Gontor. Sementara saya sebagai alumni Persis lebih menikmati proses jatuh-bangun meniti karir pada bidang Traning and Development di ibukota sembari terus menekuni dunia menulis. Terakhir, demi mewujudkan mimpi sebagai, mengutip istilah Billy Boen, seorang “Young On Top” (kebetulan sekarang pada saat yang sama juga, Kata Pengantar calon buku perdana saya tengah ditulis oleh beliau); saya memutuskan untuk merintis bisnis di bidang Information Technology.
Sepakat dengan closing statement Gazza Zubizzaretha (Alif) pada Jumat, 23-Maret-2012 beserta Ernest Samudera (Said) dan Rizki Ramdani (Atang) ketika diundang oleh STV Bandung, membahas film “Negeri 5 Menara”, saat mengakhiri talk show “I Love Bandung Life Style”:
“Pesantren bukan tempat yang melahirkan Teroris, tapi orang sukses…”.