Oleh: Umar Juoro, Pertumbuhan ekonomi pada triwulan II-2008 cukup tinggi, yaitu 6,4 persen. Namun, inflasi juga cukup tinggi, yaitu 11,8 persen tahunannya. Tampaknya, perekonomian melaju dengan suhu badan yang tinggi. Biaya produksi dan kehidupan sehari-hari mengalami peningkatan yang cukup tinggi sejalan dengan tingginya harga komoditas, energi, dan bahan makanan. Untuk mengatasi inflasi dari sisi moneter, BI menaikkan lagi suku bunga referensinya (BI rate) menjadi 9,25 persen.
Sektor ekonomi yang tumbuh tinggi berkaitan dengan jasa, seperti telekomunikasi, perdagangan, dan keuangan. Pertumbuhan sektor telekomunikasi mencapai dua angka. Pertumbuhan kredit perbankan mencapai sekitar 34 persen, namun pertumbuhan dana ketiga hanya 15 persen.
Sayangnya, sektor yang semestinya menjadi tulang punggung perekonomian, yaitu pertanian, pertambangan, dan industri manufaktur, pertumbuhannya rendah. Pertumbuhan ekonomi berlangsung dalam pola yang oportunistik, memanfaatkan sekadar peluang yang ada, yang kemungkinan keberlanjutannya dipertanyakan.
Sektor-sektor yang tumbuh tinggi tidaklah banyak menyerap tenaga kerja dan berorientasi pada konsumen. Pertumbuhan sektor telekomunikasi yang tinggi terutama berkaitan dengan perkembangan pelanggan telepon nirkabel.
Pertumbuhan perbankan erat kaitannya dengan kredit konsumsi. Karena itu, kita tidak bisa mengharapkan pertumbuhan yang tinggi dalam waktu lama. Dalam 2-3 tahun ke depan, ketika jumlah pelanggan telepon nirkabel telah mencapai tingkat optimal, pertumbuhan sektor ini akan melemah. Pertumbuhan sektor perbankan sudah terkendala oleh ketidakseimbangan dalam pertumbuhan dana pihak ketiga.
Dengan meningkatnya suku bunga, biaya untuk menghimpun dana perbankan, terutama dalam bentuk deposito, juga meningkat. Persaingan untuk mendapatkan dana masyarakat ini bukan hanya antarperbankan, tetapi juga antara perbankan dan pemerintah yang mengeluarkan obligasi untuk membiaya defisit anggaran.
Tingginya harga komoditas membuka peluang besar, terutama dalam produksi CPO dan batu bara yang cenderung bersifat oportunistik dan sporadis. Di sisi lain, pertumbuhan ini memberikan permasalahan berupa tingginya harga energi dan bahan pangan di dalam negeri yang sampai sekarang belum dikelola dengan memadai antara mengejar keuntungan ekspor dan memenuhi kebutuhan dalam negeri, terutama minyak goreng, batu bara, dan gas. Ironisnya, pertumbuhan sektor pertambangan negatif pada triwulan II-2008. Rendahnya kegiatan eksplorasi karena ketidakjelasan peraturan merupakan sebab utama.
Pertumbuhan industri manufaktur pascakrisis cenderung terus rendah, kecuali untuk industri kendaraan bermotor. Dengan perekonomian dalam tahapan sekarang ini dan besarnya jumlah tenaga kerja yang harus diserap, pertumbuhan sektor manufaktur yang tinggi masih sangat dibutuhkan. Namun, permasalahan kakunya peraturan ketenagakerjaan, meningkatnya biaya produksi, dan buruknya infrastruktur, terutama listrik dan transportasi, membuat revitalisasi sektor manufaktur sangat sulit dilakukan. Bagaimanapun upaya untuk mengatasi permasalahan ini harus dapat dilakukan, mengingat pentingnya sektor ini dalam perekonomian.
Upaya untuk mengendalikan suhu ekonomi yang tinggi, selain di sisi moneter di mana BI melakukan peningkatan suku bunga, pemerintah juga berupaya mengendalikan harga dan menjaga pasokan kebutuhan pokok. Harapannya, inflasi pada 2009 akan menurun seiring tidak adanya lagi pengaruh kenaikan harga BBM yang dilakukan pada bulan Juni lalu. Namun, permasalahan inflasi yang tinggi ini masih membayangi perekonomian. Karena, setelah pemilu dan pemilihan Presiden, siapa pun yang akan terpilih harus menyesuaikan lagi harga BBM dan tarif listrik untuk mengurangi beban subsidi yang demikian berat dalam anggaran. Sedangkan, secara umum, harga energi, komoditas lain, dan pangan tampaknya masih akan relatif tinggi.
Permasalahan pertumbuhan dan inflasi tinggi yang berjalan bersamaan adalah permasalahan lama yang tidak mudah untuk dipecahkan. Bahkan, perekonomian negara maju juga masih mengalami permasalahan serupa. Inflasi yang tinggi tidaklah harus direm mendadak, tetapi dikendalikan dengan hati-hati, baik dari sisi moneter maupun riil, sehingga perekonomian dapat terus berkembang dengan sumber inflasi yang dapat dikendalikan. Tentunya, yang lebih penting lagi adalah mengarahkan pemanfaatan sumber dana yang terbatas dan cenderung mahal sedapat mungkin pada kegiatan produktif yang dapat menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.