Mei 19, 2009

Chairil Anwar; Puisi, Revolusi, Lalu Hidup Seribu Tahun Lagi

Chairil Anwar; Puisi, Revolusi, Lalu Hidup Seribu Tahun Lagi
January 30th, 2008 by ahmadmakki

Mengapa
Chairil?

Kita tahu dia pencuri, plagiat, bohemian, penerjemah, dan tentu saja,
penyair besar.

Ya,
tapi mengapa Chairil?

Karena
berbicara sastra
tanpa mengikutsertakan penyair ini, adalah kesalahan yang tak terampuni. Sama
halnya menunaikan sembahyang tanpa melakukan takbir. Terutama karena dia
melakukan revolusi dalam dunia kesusastraan Indonesia -terlebih puisi.

Sutan
Takdir Alisyahbana (Takdir-pen) jauh-jauh hari sebelum Chairil, telah
mendeklarasikan sebuah proyek pembaharuan dalam kebudayaan Indonesia
Jadilah majalah Poedjangga Baroe yang didirikannya menjadi semacam
Alkitab yang mengabarkan misi profetiknya; modernisasi kebudayaan Indonesia yang mesti
berkaca dari cerlangnya rasionalitas dunia barat.

Takdir
pun bersiasat, Takdir pun menyusun filsafat. Tapi orang menjadi maklum, bahwa ia
tak kunjung berhasil menuangkan renungannya dalam pencapaian estetika susastra
yang dianggapnya sebagai garda depan kebudayaan.

Tiba
giliran Chairil yang tahu-tahu dengan lantang berucap “Aku”, ketika penyair
sebelum dan semasanya masih sibuk dengan ungkapan “beta.” Maka terselamatkanlah
cita-cita modernisasi Poedjangga Baru yang hampir-hampir menjadi “macan
kertas” belaka.

Chairil,
betapapun –kalau memang demikian- plagiatnya ia, tapi dibawakannya kepada kita
angin baru dalam dunia persajakan Indonesia. Baik dalam soal bentuk,
maupun tema. Pola-pola persajakan melayu lama yang banyak terpaku pada rima,
dibabatnya tiba-tiba.

Bandingkan,
misalnya, dua petikan sajak ini:

Rang…
rang… rangkup

Rang…
rang… rangkup

Batu
belah batu bertangkup

Ngeri
berbunyi berganda kali

(Sajak Batu
Belah)



Kalau
sampai waktuku

‘Ku mau tak
seorang ‘kan
merayu

Tidak juga kau

Tak
perlu sedu sedan itu

(Sajak Aku)

Pada
sajak Batu Belah yang ditulis Amir Hamzah, kita lihat struktur pantun
dengan kuatnya permainan bunyi yang menjadi ciri esensial dalam sajak-sajak
yang berakar pada tradisi melayu. Sementara pada bait di bawahnya yang kupetik
dari sajak Aku, karya Chairil, meski ada kesamaan huruf dari tiap
akhir barisnya, namun sama sekali tidak mengasosiasikan persahutan bunyi
seperti pada sajak Amir Hamzah. Pada hematku, “kesemena-menaan” bentuk ini juga
yang memungkinkannya untuk mengeksplorasi tema baru dalam tradisi puisi Indonesia.

Chairil
yang lebih banyak menengok kepada tradisi barat, dari pengembaraan spiritualnya,
memberi kita oleh-oleh tema yang cukup gandrung di dataran eropa ketika itu;
eksistensialisme.

Kecuali
tentang keindahan alam, sebagaimana penyair sebelumnya, praktis ia masih
membicarakan soal-soal seperti cinta, religiusitas, persahabatan dan
sebagainya. Tapi di tangan penyair yang dianggap sebagai pelopor angkatan 45
ini, hal-hal tersebut seolah hanya menjadi medium untuk menegaskan prinsip
individualitasnya yang berakar pada filsafat eksistensialisme.

Tengok
saja ungkapan-ungkapan dalam sajak cintanya seperti Penerimaan; Kalau
kau mau kuterima kau kembali/Untukku sendiri tapi/Sedang dengan cermin aku
enggan berbagi. Atau bahkan kepada Tuhan, ia sempat bilang; Ini
ruang/Gelanggang kami berperang/Binasa-membinasa/Satu menista lain gila.

Kita
dapat mengendus aroma ke-Aku-an yang tajam pada frasa-frasa semacam itu yang
memang menjadi ciri khasnya. Belum lagi sajak Aku yang menjadi semacam manifesto
bagi pendiriannya.

***

Chairil
memang anak jamannya, meski lahir di tempat yang keliru.

Bayangkan,
ketika Indonesia
masih gonjang-ganjing kedaulatannya -maka wajar kalau paham nasionalisme
menjadi solusi praktis ketika itu, ia mendeklarasikan sikapnya sebagai binatang
jalang yang mengambil jarak-diri dari kumpulannya. Ke sana ke mari ia bicara tentang universalisme,
dan terus terang menolak untuk “melap-lap hasil kebudayaan lama sampai
berkilat untuk dibanggakan.” Cukup beralasan jika di kemudian hari, H.B
Jassin, rekannya sendiri, mencurigainya sebagai corong kolonialis untuk
mematahkan semangat nasionalisme ketika itu.

Tapi
memang, meski anak jamannya, Chairil lahir di tempat yang keliru.

Dan
karena itulah apa yang dilakukannya dalam kesusastraan kita, diyakini sebagai
revolusi. Sebab itu, secara implisit, Goenawan Mohamad pernah menyatakan,
berbeda dengan puisi ala melayu lama, dalam puisi bukan-syair (tentulah yang
ditunjuk di sini adalah tradisi puisi yang dimulai oleh Chairil Anwar-pen),
kita tak bisa lagi membedakan antara “bentuk” dengan “isi”.

Artinya,
coba bayangkan, bagaimana kita menyampaikan gagasan dalam sajak Aku,
dengan teknik pantun yang masih membekas pada sajak-sajak Sitor Situmorang,
misalnya?

Pada gaya bahasa
Chairil yang lugas dan impresif itulah kita menemukan kepaduan dari semangat
yang hendak diangkatnya. Dalam prosa, misalnya, aku biasa menyandingkannya
dengan gaya
Budi Darma yang “serampangan”, dan justru inheren dengan sisi kelam serta
irasionalitas manusia yang hendak diangkat. Karena itulah, dalam tradisi
persajakan modern ala Chairil, teknik berbahasa menjadi unsur yang krusial bagi
pengungkapan kesan-kesan pribadi ke dalam teks yang hendak dibaca khalayak.

Dan
sekali lagi, Chairil memang anak jamannya yang tengah berpesta pora dengan
keagungan rasionalismenya. Dan dengan kesadaran itulah ia berkarya.

Bagi
penyair yang meninggal di usia muda ini, inspirasi bukanlah wahyu yang jatuh
dari langit. Ia tak pernah mempercayai seorang pengarang yang tengah dimabuk
inspirasi dapat melahirkan karya bermutu tinggi. Baginya, inspirasi adalah
sesuatu yang mesti ditimbang, diperiksa setiap sudutnya, atau bahkan kadang
harus dicampakkan jika tak bisa melewati seleksi rasio. Kata-kata mesti dipahat
dan diamplas sedemikian rupa, hingga mencapai bentuk pengucapan yang puncak dan
memonumen. Oleh karenanya ia bertekad menelusuri bahasa hingga ke akar-akarnya.

***

Tahun
1949. Chairil menulis “hidup hanya menunda kekalahan/…/sebelum pada akhirnya
kita menyerah.” Tak lama kemudian ia dijemput ajal, meski beberapa tahun
sebelumnya, ia terlanjur bertekad untuk “hidup seribu tahun lagi.”

Maka
membaca Chairil, paling tidak bagiku, adalah menikmati ketegangan antara dua
kutub ekstrem tersebut. Pergulatan kehendak melawan takdir, pergumulan
kemungkinan melawan batas-batas manusia. Dan tepat pada titik itulah Chairil
mendedahkan eksistensialismenya.

Dan
orang boleh bilang ia tak konsisten, jika pada suatu waktu ia “Binasa-membinasa”
dengan Tuhan, namun kemudian masih sempat bilang “Dalam termangu aku masih
menyebut nama-Mu/Biar susah sungguh/Mengingat Kau penuh seluruh.”

Atau
bisa saja kita heran, di tengah penegasan individualitasnya sebagai binatang
jalang/Dari kumpulannya terbuang, ia masih sempat bikin Persetujuan
Dengan Bung Karno serta sajak Krawang-Bekasi yang tak pelak
dipengaruhi suasana Indonesia
kala itu.

Tapi
memang demikianlah Chairil. Seperti Sartre, baginya eksistensi manusia bukanlah
sesuatu yang selesai sekali didefinisikan. Hingga batas kematian, kita masih
mungkin saja mengeksploitasi segala kemungkinan.

Maka
sekali lagi, orang boleh saja bilang ia pencuri, plagiat, bohemian, penerjemah,
dan tentu saja, penyair besar. Tapi lagi-lagi kita terlanjur percaya, ia pernah
bilang; “Aku mau hidup seribu tahun lagi.”

Posted in Uncategorized | 1 Comment »
Soeharto
January 30th, 2008 by ahmadmakki

Aku terheran-heran dengan bangsaku sendiri akhir-akhir ini. Soeharto sakit (akhirnya wafat) orang-orang berdebat, orang-orang adu pendapat. Sementara media massa berlomba-lomba membaptis (kembali) Soeharto sebagai Bapak Pembangunan.

Tak ada yang salah, memang. Tak ada yang salah, kecuali pemberitaan yang tidak seimbang antara liputan atas jasa Soeharto dengan liputan atas kesalahan-kesalahan yang mengakhiri kekuasaannya selama 32 tahun.

Orang-orang berebut ingin memaafkannya, tapi apa yang mesti dimaafkan? Faktanya dia tak pernah menempuh proses peradilan yang sehat sehingga dibuktikan bersalah. meski begitu bukti-bukti telah terlanjur mengarah kepadanya.

Sejak Soeharto sakit, koran-koran dan stasiun-stasiun televisi berebut memajang mukanya dan menceritakan sejarah baiknya. Makanya kita kemudian lupa bahwa di berbagai titik negeri ini, banyak rakyat yang dikepung bencana alam, kekurangan bermacam kebutuhan, kehilangan harapan sehingga tak mampu lagi meminta tolong. Padahal kondisi mereka lebih miris ketimbang Soeharto.
***
Kita jangan berlagak suci dengan mengajak orang lain untuk memaafkan Soeharto, tapi bercerminlah pada rakyat kecil yang terlantar lihatlah jelaga di muka dan hati kita, lalu meminta maaflah pada ibu pertiwi, Indonesia.