Tokoh-tokoh NU di Luar Negeri Belum Dimanfaatkan
Makassar-Muktamar Ke-32 Nahdlatul Ulama di Makassar, Sulawesi Selatan, 25-31 Januari 2010, berpotensi mengundang intervensi kepentingan politik tertentu. Karena itu, NU harus menjaga posisinya untuk tidak menjadi oposisi ataupun bagian dari pemerintah.
”Muktamar mendatang akan menjadi penentu apakah NU sebagai organisasi bisa bangkit dan menjawab tantangan zaman atau justru lebur dilibas berbagai tantangan yang dihadapinya,” ujar KH Hasyim Muzadi, Ketua Umum Pengurus Besar NU, dalam sambutannya pada peluncuran Panitia Daerah Muktamar Ke-32 NU dan Seminar Nasional Ekonomi Kerakyatan, Minggu (18/10) di Makassar.
Hasyim menyatakan, muktamar itu akan menjadi titik kritis bagi NU. Terhadap dua kecenderungan itu, Hasyim memilih NU bisa bangkit dan menjawab tantangan yang ada.
Hasyim Muzadi mengingatkan, NU tidak lahir untuk berpolitik. NU lahir untuk agama, bangsa, kemanusiaan, dan keadilan. Namun, karena anggota yang besar, NU bernilai politik. Karena itu, politisi tidak akan tinggal diam.
Hasyim menyatakan, NU tidak boleh menjadi oposan ataupun bagian dari pemerintah. Ketika penyelenggara negara melakukan kebaikan, harus didukung. Ketika penyelenggara negara melakukan kesalahan, harus diluruskan dan mengkritiknya. NU harus memosisikan menjadi organisasi yang mandiri.
Oleh karena itu, kata Hasyim, NU tidak boleh menjadi bagian dari partai, juga tidak boleh menjadi bagian dari kekuasaan. Akan tetapi, NU juga tidak boleh menjadi oposan dari kekuasaan itu.
”Jika NU oposan, NU telah meninggalkan amar makruf. Sebaliknya, jika NU menjadi bagian dari kekuasaan, NU meninggalkan nahi mungkar,” kata Hasyim.
Dalam keterangan persnya, Hasyim menyatakan, NU akan melakukan serangkaian kegiatan pramuktamar untuk membahas sejumlah persoalan kekinian yang dihadapinya. Kegiatan itu termasuk merumuskan bagaimana pola hubungan NU dengan partai politik.
Kader NU luar negeri
Secara terpisah, KH Ahmad Fuad Abdul Wahab dari Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Arab Saudi kepada Antara, Minggu, mengatakan, dalam muktamar diharapkan ada optimalisasi peran NU dalam memberdayakan kader-kader muda potensial yang tergabung dalam PCINU sebagai gudang pengaderan. PCINU atau ”NU International Network” merupakan wadah strategis yang dimiliki NU.
KH Fuad mengatakan, sebagian besar penggerak PCINU di luar negeri adalah anak-anak muda NU yang sedang menempuh studi magister (S-2) dan doktor (S-3) pada berbagai perguruan tinggi ternama di dunia. Sebagian bahkan telah menyandang gelar sebagai guru besar atau profesor.
”Potensi SDM NU sangat melimpah ruah, tetapi sayangnya belum dapat dimanfaatkan dengan baik oleh NU,” katanya.
Karena itu, tokoh-tokoh NU yang tergabung dalam NU International Network itu akan berkumpul di Kota Bogor, Jawa Barat, 24 Oktober, guna mengikuti konferensi yang membahas berbagai isu aktual menjelang Muktamar NU. (row)
Kompas,Senin, 19 Oktober 2009