Maret 29, 2016

UIN BANDUNG MENGANTISIPASI ISIS BERKEMBANG DI INDONESIA



Bandung, RISALAHNU - Munculnya Islamic State of Iraq and Sham/Syria (ISIS) atau dalam bahasa Arabnya al-Dawlah al-Islamiyah fi al-Iraq wa al-Syam (Daisy) adalah gerakan ekstremis lain yang mengatasnamakan Islam. Dampaknya, wajah Islam tampak hanya kemarahan dan kebiadaban. Di Indonesia, individu-individu yang berperan mewujudkan visi global ISIS adalah orang-orang yang tidak mengerti geopolitik Arab, khususnya Irak dan Suriah.  Hal tersebut didiskusikan dalam Seminari Sehari yang bertajuk “Mengantisipasi ISIS, Mencegah Kekerasan Atas Nama Agama” di Aula Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan Uin Sunan Gunung Jati Bandung, Senin 28 Maret 2016.

Menurut salah satu pembicara, Dr. Setia Gumilar (Akademisi dan Dekan Fakultas Adab UIN Sunan Gunung Djati  Bandung) Pergerakan ini masuk Indonesia memanfaatkan jejaring sosial dan sejumlah situs. Ia melanjutkan “Bagi Indonesia yang merupakan negara dengan muslim terbanyak di dunia, keberadaan ISIS dapat mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dia bertentangan dengan ideologi Pancasila dan semangat ukhuwah islamiyah yang selama ini menjadi ciri khas beragama masyarakat Indonesia yang dipandang toleran dan inklusif.”

 Indonesia adalah bangsa yang majemuk. Salah satu masalah berkaitan dengan kemajemukan bangsa Indonesia adalah dalam hal kehidupan beragama. Kerukunan hidup antar atau internal umat beragama di Indonesia sangat penting karena agama bagi masyarakat Indonesia adalah sistem acuan nilai (system of referenced values) yang menjadi dasar dalam bersikap dan bertindak bagi para pemeluknya. Sedangkan pembicara lain, Wawan Gunawan, MA (Peneliti dan Penggiat Jaringan Kerukunan Antar Umat Beragama/JAKATARUB) lebih melihat dalam perspektif sosial budaya. Bahwa agama tidak terlepas dari masyarakat tempat para pemeluk agama yang bersangkutan berada. Agama berfungsi sebagai sistem pengetahuan dan keyakinan untuk menjalani kehidupan di dunia dan kesiapan untuk memasuki kehidupan di akhirat. 

“Karena fungsi agama seperti itulah, maka agama dianggap sebagai roh dari kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, agama dapat menjadi perekat kedamaian, tetapi agama juga dapat menimbulkan ketegangan dan kekerasan sosial” tuturnya.
Masalah yang berlatar belakang agama antara lain dipicu oleh konflik atau kekerasan antar atau internal umat beragama karena perbedaan keyakinan atau akidah, pendirian tempat ibadah, perebutan tempat ibadah dan penggunaan simbol-simbol agama untuk kepentingan tertentu sehingga menimbulkan reaksi atau penolakan serta perlawanan dari kelompok yang lain.

 Konflik antar dan internal umat beragama masih terjadi di Indonesia. Kekerasan sosial seperti itu sangat tidak sesuai dengan ajaran agama apapun yang dianut oleh para pelaku kekerasan sosial itu sendiri. Selain itu kekerasan sosial juga menunjukkan dangkalnya pemahaman para pelaku kekerasan terhadap ajaran agama dan hancur-leburnya ketaatan hukum masyarakat pelaku kerusuhan sosial.
Perwakilan dari Departemen Dakwah dan Pembinaan Masyarakat MUI Jabar, Dr. Ajid Thohir khawatir apabila fenomena kekerasan sosial yang berlatar belakang agama tidak segera diatasi, maka akan berdampak negatif terhadap ketahanan nasional yang akhirnya akan berpengaruh pada tegak dan utuhnya NKRI.
“kami dari departemen dakwah dan pembinaan MUI Jabar lebih mengutamakan pendekatan pembinaan ideologi” ujar dosen yang juga menekuni sejarah ini.
Keberagaman bagi bangsa Indonesia adalah rahmat dan karena itu harus disyukuri sebagai kekayaan bangsa Indonesia. Namun jika bangsa Indonesia gagal mengelola kebhinnekaan itu, maka yang terjadi adalah disintegrasi bangsa. “pembinaan sebenarnya juga tugas kita semua” katanya.  “seluruh komponen bangsa harus bersatu padu menjaga kebhinnekaan itu sebagai kekayaan dan modal dasar dalam pencapaian tujuan nasional” tegasnya.

Indonesia bukan negara agama tetapi juga bukan negara sekuler. Keunikan ini memiliki kelebihan dan kekurangan karena agama-agama dapat hidup dan berkembang dengan baik dijamin oleh undang-undang. Keanekaragaman tersebut apabila tidak dikelola dengan baik mengandung potensi konflik dan konflik itu akan mengganggu terwujudnya kerukunan hidup beragama di Indonesia.

Dalam kehidupan beragama, ada peningkatan daya kritis umat dan pada saat yang sama ada kebebasan masuknya ideologi baru yang disebut gerakan transnasional. Implikasinya ketegangan sering muncul, sehingga diperlukan upaya sistematis berjangka panjang dan berkesinambungan.
Kegiatan seminar yang diadakan oleh Dewan Mahasiswa Fakultas (DMF) Tarbiyah  ini dimaksudkan untuk menumbuhkembangkan saling pengertian dan saling membantu antar kelompok Islam dalam hal mencegah ISIS berkembang di Indonesia; serta mencegah generasi muda masuk dalam kelompok ISIS baik dalam skala kecil maupun besar. 

Anstusiame  dalam mengikuti seminar ini sangat besar dengan dihadiri sekitar 300 peserta yang terdiri dari mahasiswa, dosen dan staf akademik kampus UIN SGD Bandung. Mereka merasa memiliki tanggungjawan untuk menjaga keutuhan NKRI agar tercapai misi kemanusiaan dalam agama dan menjaga budaya dan kearifan lokal sebagai penyangga kerukunan dan perdamaian di bumi Indonesia. (Ridho/Damar).