Mei 08, 2016

Kitab Rihlah Jâwâ al-Jamîlah wa Qishshah Dukhûl al-Islâm ilâ Syarq Âsiyâ

13095779_981704788577824_2702404982986914821_nRihlah Jâwâ al-Jamîlah wa Qishshah Dukhûl al-Islâm ilâ Syarq Âsiyâ (Perjalanan [ke] Nusantara yang Elok, dan Cerita Masuknya Islam ke Timur Asia), ditulis pada tahun 1936 M oleh Shalih ibn ‘Ali al-Hâmid, buku ini memberikan kita informasi yang kaya, penting, dan langka akan gambaran Nusantara pada masa penjajahan Belanda ditinjau dari sudut pandang seorang pelancong asing. Al-Hâmid, seorang sejarawan dan sastrawan besar dari Yaman, melancong ke Nusantara setahun sebelumnya (1935 M), dalam sebuah misi kebudayaan. Saat itu Nusantara masih berada di bawah kekuasaan penjajah Belanda.

Al-Hâmid masih menggunakan terma “Jâwâ” untuk menunjukkan “Nusantara”—terma yang khas digunakan sejak zaman pertengahan (medieval ages) oleh para pelancong Arab dan Eropa. Hingga saat itu, di dunia Arab kata “Jâwâh” masih digunakan untuk mengartikan wilayah Nusantara-Asia Tenggara. Para pelajar dan pengajar asal Nusantara di Masjid al-Haram (Makkah) dan Al-Azhar (Kairo) juga disebut dengan al-Jâwiyyûn (orang-orang Jawi-Nusantara). 

Dalam beberapa artikel dan korespondensi Majalah al-Manâr—didirikan oleh Muhammad Rasyid Ridha pada 1898 M di Kairo, sekaligus majalah yang sedang “nge-hits” pada masa itu sebagai ikon pencerahan dan pembaharuan dunia Islam—misalnya, terma “Jâwâ” digunakan untuk menunjukkan “Nusantara”. Beberapa surat dari Fâdan (Padang), Falamban (Palembang), Batâwiyâ (Batavia/Jakarta), Âjî (Aceh), Sambas, Salbas (Celebes/Sulawesi), bahkan Malâyâ (Malaysia) dan Sinqâfûrah (Singapura), selalu diikuti oleh penegasan kata “bi [bilâd] Jâwâ” (di [negeri] Nusantara).

Al-Hâmid berada di Nusantara selama kurang lebih setengah tahun, menjelajahi beberapa pulau (Jawa, Bali, dan Lombok) dan menghabiskan masa-masa yang sangat mengesankan. Al-Hâmid menuliskan gambaran pulau Jawa, Bali, dan Lombok dengan sangat detail; topografi, penduduk, adat istiadat, struktur pemerintahan dan masyarakat (Belanda totok, indo-peranakan, pendatang Cina dan Arab, dll), lembaga pendidikan, dan juga diaspora Arab-Yaman (al-Hadhârimah) serta kiprah mereka di Nusantara. 

Selain itu, al-Hâmid juga sedikit banyak menuliskan sejarah masuknya Islam ke Jâwâ (Nusantara), sejarah kolonialisme Eropa di Nusantara, juga perbedaan istilah Jâwâ (Nusantara) dalam literatur klasik dan modern.

Di antara beberapa tempat yang dikunjungi oleh al-Hâmid antara lain; Solo, Kintamani, Madura (Mâjûrah), Surabaya, Banyuwangi, Bondowoso, Bedugul, Buleleng, Lombok, Airmadu, Kintabatu, Pasir Putih, Malang, Batu, Pasuruan, Jogja (Jakjâ), Semarang (Samârag), Pekalongan (Bakâlûgân), Bogor, Pasar Minggu (Fâsâr Minqû), Purwakarta, Batavia, Garut (Qârût), Cianjur (Syânjûr), Sukabumi, Bandung, dan Singapura.
Al-Hâmid menulis tentang Batavia; “Batavia adalah pusat pemerintahan, ibu kota Jâwâ dan semua Kepulauan Hindia Timur Belanda. Kota ini terletak di tepi sungai Sîlîug (Ciliwung), terdiri dari distrik-distrik yang tertata. Tata kota, corak arsitektur bangunan, dan ‘hawa’ kota ini secara umum bernafaskan Eropa-Belanda. Gedung-gedung cantik dan megah banyak berdiri. Batavia juga adalah pusat terpenting aktivitas perdagangan, mengekspor karet, teh, dan rempah-rempah. Di sana ada banyak kantor dan perusahaan besar, juga pusat keuangan. Pada masa Hindu-Budha, kota ini dinamakan Sanwâ Kalafâ (Sunda Kalapa), lalu setelah ditaklukkan kesultanan Bântâm (Banten), dirubah namanya oleh Maulânâ Hidayatullâh menjadi Jayakarta”.

Sedangkan atas keelokan tempat-tempat di pulau Jawa-Bali-Lombok secara umum, al-Hâmid menggambarkan: “Tempat ini adalah gambaran Firdaus yang diberikan Allah di atas muka bumi. Firdaus yang ‘tak ada matapun dapat melihat, telinga dapat mendengar, dan bayang pikiran dapat melintas di hati manusia”. Allah memberikan karunia kepada para penduduk negeri ini dengan alam beserta pemadangan dan kesuburannya yang tiada tara”.

Al-Hâmid menuliskan catatan yang sedikit berbeda akan pulau Bali: “Orang-orang Bali [baik lelaki atau perempuan] bertelanjang dada. Mereka hanya memakai secarik sinjang. Para perempuan Bali harus memakai pakaian demikian karena mengikuti budaya leluhur mereka yang konservatif. Meski secara geografis Bali dekat dengan Jawa, namun orang-orang Bali masih hidup dalam kondisi zaman pertengahan. Kemodernan seakan-akan belum berpengaruh dalam kehidupan mereka”.
Buku “Rihlah Jâwâ al-Jamîlah” karangan al-Hâmid ini baru diterbitkan pada tahun 2002 M di Tarim (Yaman) oleh penerbit Tarîm li al-Dirâsât wa al-Nasyr, setelah cucu penulis menemukan manuskrip catatan perjalanan ini dan menyunting (tahqîq)-nya (dengan tebal 234 halaman).

Tentu, buku ini menarik bukan semata-mata karena menyuguhkan catatan perjalanan yang mengasyikkan, tetapi juga memberikan kita informasi penting terkait sejarah, antropologi, sosiologi, dan etnografi Nusantara pada masa itu.

Sumber : Ustadz Ahmad Ginanjar Sya’ban